Cinta dan impian
karya
HADITRI SETIAWAN
Hari kelulusan pun telah tiba, dimana hari itu seluruh siswa akan mendapat hasil ujian nasional, dan bersyukur ia mendapatkan hasil yang bagus, yaitu LULUS. Tedi mulai berpikir ini adalah awal hidupnya, dimana dia
harus memulainya sendirian, tanpa bantuan orang tua lagi, dan hanya membutuhkan doa orang tua serta ridho dari sang pencipta. Dan itulah dia, seorang
lelaki berambut keriting , berkulit sawo matang, pintar, apa soal masak
memasak, ia lulusan dari SMK purnama BANDUNG jurusan tata boga. Nama lengkapnya Tedi
subarjo, ia bukan pria yang mudah menyerah, tekun, berani, nekat banget, serta memiliki impian yang tinggi, dia ingin menjadi koki hebat
di indonesia, dan mempunyai restoran sendiri.
Sejak di SMK ia pernah menjuarai lomba memasak tingkat provinsi jawa barat, mungkin sekarang semua sudah menjadi sejarah saja, namun itu suatu kebanggan bagi dirinya dan sekolahnya waktu itu.
Malam hari setelah merayakan kelulusannya, tedi belum menemukan jalan selanjutnya, "mau kerja dimana ???"bingung dan pasrah, itu yang terlihat di wajah tedi, bahkan ia sampai tertidur dan terbangun tengah malam.
Pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke
kota YOGYAKARTA untuk mencari pengalaman kerja yang lebih baik dan berkembang. Dengan uang tabungannya ia akan berangkat, dengan uang itu pula dia bertekat untuk makan sehari dua hari, sambil mencari pekerjaan. Sebelum berangkat tedi tidak lupa meminta doa restu
dari ayahnya serta ibu tirinya, yaa meskipun ibu tiri, dia tetap menganggapnya sebagai ibu kandung, karena dia sudah di
tinggal ibu kandungnya saat ia berusia 10
tahun, sampai saat ini ia belum merasakan penuh kasih sayang seorang
ibu kandung, cukup miris hidup yang dialami tedi. Hari pengambilan ijazah pun tiba, sembari berkemas dan mematangkan
niatnya untuk pergi merantau. Esok harinya tedi berangkat dari kota
bandung menggunakan kereta api Di Stasiun Kiaracondong jurusan stasiun balapan solo. Perjalanannya tidak memakan banyak waktu, dan tedi pun terlihat nyaman di perjalananya sambil memikirkan akan tinggal dimana dia nantinya, pikiran itu terus terbayang. Ada satu hal yang tedi tidak ketahui tentang ayahnya yang mempunyai adik perempuan di jogja, ayahnya meminta tolong pada bude sum untuk memantau
tedi selama di jogja, dan menjemput tedi di stasiun balapan solo. Tedi bermalam di dalam kereta api dengan suasana yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Esok harinya tedi telah tiba di stasiun balapan solo. Ternyata bude sum bermalam di rumah temannya di kota solo sengaja untuk menjemput tedi keponakannya pagi-pagi, karena ia tau ada kereta dari bandung pagi ini. Kereta pun telah berhenti dan perjalanan tedi baru dimulai, ia terlihat kebingungan harus kemana, namun ia mengikuti bapak tua menuju pintu keluar dimana bapak itu menghampiri seseorang yang menjemputnya, pada saat menengok kiri kanan tedi pun mendengar ada yang menyebut namanya, itu adalah bude sum yang bertanya pada penumpang lain yang turun serentak dengan tedi, ia mendekat ke ibu-ibu yang menyebut namanya tadi, dan bertanya. "Ibu lagi nunggu anaknya yaa? Kok namanya sama dengan saya " tertawa kecil bude sum menjawabnya dengan pertanyaan "ini
nak tedi ya, anaknya mas hadi suparjo dari bandung?". Bude
sum menanyakan kepada orang yang tepat. "Iya benar bu, saya anak pak hadi suparjo, kok ibu kenal ayahku?" Tanya tedi k
embali
embali
“saya budemu nak, adik dari ayahmu,
saya dari jogja untuk menjemputmu” jawab bude sum “ayahku tak pernah bercerita kalau dia punya adik di jogja” tedi dengan
terkejut
“itulah ayahmu, dia selau ingin terlihat mandiri di depan orang lain, bahkan anaknya sendiri” jawab bude sum sambil tertawa tersenyum
“baiklah, berarti anda itu bude saya?” tanyanya sambil masuk mobil bude sum
“itulah ayahmu, dia selau ingin terlihat mandiri di depan orang lain, bahkan anaknya sendiri” jawab bude sum sambil tertawa tersenyum
“baiklah, berarti anda itu bude saya?” tanyanya sambil masuk mobil bude sum
“iya tedi, saya budemu” jawab sambil
membawa mobil
perjalanan cukup lama untuk sampai di
rumah bude sum, tedi tertidur pulas, dan ditengah perjalanan dia terbangun
melihat sekeliling kota D.I.Y( Daerah Istimewah Yogyakarta). Sambil melihat
sekeliling kota, dia memikirkan suatu prinsip yang lama dia tekuni.
jika waktu tak di jalani dan tak di manfaatkan, maka hiduppun akan sia-sia, tak ada hasil dan tak ada makna, sedikitpun.
jika waktu tak di jalani dan tak di manfaatkan, maka hiduppun akan sia-sia, tak ada hasil dan tak ada makna, sedikitpun.
Pagi yang cerah di
malioboro. Pagi hari di pinggir jalan malioboro, terlihat restoran yang cukup
besar dan sederhana, restoran itu bernama resto santi. Di restoran itu tinggalah
seorang koki handal, dia mengelolah restoran itu bersama anak dan beberapa
karyawannya, baru satu tahun resto itu berdiri dan pemilik restoran itu bernama
roy, dia memiliki anak perempuan yang selalu membantunya di resto, dia bernama Mala santika. Nama resto yang roy dirikan di ambil dari nama almarhum istrinya,
yang meninggal sebelum resto itu di bangun. Anaknya yang bernama mala ialah wanita yang baik, berambut panjang dengan warna hitam, mala juga wanita yang judes, jutek, namun ia terlihat manis ketika sedang menebar senyuman. Mala tahun ini
baru lulus SMA, jurusan bahasa dan sastra di salah satu sekolah negeri di kota
jogja, ia memang memiliki bakat menulis sebuah puisi dan membuat cerita-cerita
pendek, mala ingin sekali menciptakan sebuah novel yang dia impi-impikan sejak
duduk di bangku SMA.
Sebenarnya mala berniat kuliah, tetapi ia melihat kondisi ayahnya yang tidak memungkinkan untuk membiayainya sampai
bangku kuliah, tidak pantang menyerah ia berusaha menjadi pelayan di resto ayanya,untuk mendapat
imbalan dari ayahnya, ia mengumpulkan uang yang di berikan ayahnya untuk biaya
kuliah, uang itu di berikan kepada mala semata-mata itu adalah gaji selama dia
membantu ayahnya.
“tidak ada usaha, maka tidak ada uang jajan” ancam roy kepada mala.
“tidak ada usaha, maka tidak ada uang jajan” ancam roy kepada mala.
“baiklah, mala akan membantu ayah jadi
pelayan resto ini, bagaimana?” penawaran mala dengan ayahnya
“ayah terima” jawab dengan senyum
“ayah terima” jawab dengan senyum
Mala akhirnya resmi menjadi pelayan di resto
ayahnya, walaupun dengan gaji yang tidak seberapa mala tetap senang. Mala sebenarnya memiliki niat untuk membantu
ayahnya menjadi koki, tetapi ayahnya melarang mala untuk bekerja di dapur,
takut berantakin dapur. Karena mala tidak bisa masak, maka dari itu ayahnya melarang mala untuk bekerja di dapur.
Tak tega melihat ayahnya bekerja sendiri di dapur, mala berinisiatif membuka
lowongan pekerjaan, dengan syarat harus laki-laki dan tampan. Sebelumnya mala
sudah mengatakan kepada ayahnya, bahwa mala akan mencari koki handal untuk
menemani roy di dapur. Karena itu saran dari putri kesayangannya, roy pun
menyetujuinya.
Seharian mala menjadi pelayan di resto
ayahnya. Waktu terus berjalan, wanita manis itu merasa sangat lelah karena ini
hari pertama dia merasakan menjadi pelayan, malam ini mala tidak tidur dirumah,
mala tidur di resto ayahnya, karena sudah cukup larut malam, jadi ayahnya
melarang mala pulang ke rumah yang
jaraknya cukup jauh dari malioboro, rumahnya sangat dekat dengan taman sari
yogyakarta, taman itu adalah tempat dimana mala melepas rindu dengan ibunya. Hari
pun makin malam, Karena terlalu lelah, mala tertidur pulas, walaupun dia belum
mandi.
Malam semakin larut, di malam yang
larut, di kamarnya tedi belum bisa tidur, karena dia masih bingung akan nasibnya di kota yang istimewah ini. Menghilangkan rasa bosan, sekaligus menambah wawasan, Tedi
membaca buku tentang masakan yang menjadi favorit orang-orang jawa, tentunya di
kota yang istimewah ini. Tak lama Tedi pun keluar kamar
“ted, kok belum tidur?” tanya bude
“belum ngantuk bude, sedang buat apa bude?” tanya tedi kembali
“bude sedang membuat kue ulang tahun pesanan orang ted, kenapa?” jawab bude dan kembali bertanya dengan senyum
“enggak kenapa-kenapa, mau aku bantuin bude?” tawaran tedi seakan dia hebat membuat kue
“memang kamu bisa ted?” tanya bude tak yakin
“heemmm, bude kok meragukan tedi sih, tedi ini calon koki terkenal lohh” jawabnya sambil tertawa
“ted, kok belum tidur?” tanya bude
“belum ngantuk bude, sedang buat apa bude?” tanya tedi kembali
“bude sedang membuat kue ulang tahun pesanan orang ted, kenapa?” jawab bude dan kembali bertanya dengan senyum
“enggak kenapa-kenapa, mau aku bantuin bude?” tawaran tedi seakan dia hebat membuat kue
“memang kamu bisa ted?” tanya bude tak yakin
“heemmm, bude kok meragukan tedi sih, tedi ini calon koki terkenal lohh” jawabnya sambil tertawa
Keasyikan membuat kue bersama budenya,
tedi tak ingat lagi akan kebingungannya dengan nasibnya di kota ini. Jam
menunjukan jam 23.30 WIB. Tedi masuk kamar dan dia tertidur karena sedikit
kelelahan membantu bude membuat kue ulang tahun.
pagi hari di rumah yang sederhana,
tedi terbangun, dan langsung mandi. Setelah mandi ia ikut sarapan bersama bude
dan sepupunya neti,
“tedi, bude boleh tanya nak?” tanya bude sambil mengambil nasi
“boleh bude, mau tanya apa?” jawab tedi tersenyum
“kamu mau kerja dimana?” tanya bude
tedi termenung, dan diam sejenak,
“belum tau bude, rencananya aku mau bekerja di restoran kecil saja, sebagai koki” jawab tedi masih bingung
“emmm, bagus kalau begitu” jawab bude
“ibuu, ayo antar aku ke sekolah” potong neti
“berangkat sama mas tedi saja ya nak, ibu lagi sibuk ngurus kue nih” jawab bude sambil merapihkan kue ulang tahun.
“hemm ya sudah, ayo mas, anterin neti” seru neti kesal
“iya neti, mas manasin motor dulu” jawab tedi sambil ke kamar
beberapa menit memanaskan motor, dan di perjalanan mengantar neti ke sekolah, tedi melihat kekiri kekanan, untuk memastikan ada restoran yang membuka lowongan pekerjaan. Di sepanjang jalan ia tidak menemukan satupun restoran yang membuka lowongan kerja.
Sepulang dari mengantar neti ke sekolah, tedi sengaja berkeliling di sekitar pasar maliboro. Tiba-tiba tepat di depan resto santi milik mala, ia melihat ibu-ibu terbaring dan ternyata ibu itu korban tabrak lari, dengan cepat dia menolong karena suasana di jalan masih sedikit lengang, saat itu mala ingin pergi sebentar ke taman sari, seperti biasa, setiap pagi ia datang ke taman sari untuk bercerita dengan ibunya, setiap ada masalah pasti selalu di ungkapkan di taman yang indah itu. Saat mala keluar dari resto, dia melihat tedi sedang menolong ibu yang menjadi korban tabrak lari tadi.
“heeeeyy, ada apa ini, kamu tabrak ibu ini yaa?” tuduhan mala terhadap pria berambut kriting bekulit sawo matang
“jangan sembarang tuduh kamu” bantah tedi dengan nada kesal
“ya sudah, ayo kita bawa ke rumah sakit dekat sini” seru mala dengan tergesah gesah
tedi dan mala belum kenal satu sama lain, mereka membawa ibu tadi kerumah sakit terdekat. Tak lama setelah dirumah sakit, mala pergi meninggalkan tedi sendirian
“kamu mau kemana?” tanya tedi
“aku mau pergi, ada urusan” jawab mala ketus
“bagaimana nasib ibu tadi?” tanya tedi dengan wajah bingung
“kan kamu yang nabrak, jadi kamu yang harus tanggung jawab semuanya” tuduh mala, dan langsung pergi tak perduli
“sudah kubilang bukan aku yang menabraknya” jawab tedi dengan nada tinggi
orang-orang di sekitar tedi memandanginya dengan sinis, karena tedi berteriak di rumah sakit, salah satu pasien menunjuk tulisan “JANGAN BERISIK” di dinding rumah sakit.
Setelah urusan di rumah sakit selesai tedi pulang dengan wajah lesu, tedi bebicara dalam hati, “ini hari sialku atau apa ya, bertemu dengan wanita cantik tapi tak bertanggung jawab”
di perjalanan melanjutkan mencari pekerjaan, selama perjalanan dia tak mau lewat depan resto santi milik mala, dia takut sial lagi. Lama berjalan pelan dengan sepeda motor, tedi berhenti sejenak, dan beristirahat di sebuah taman, yang bernama taman sari, di mana taman itu tempat mala biasa mengenang ibunya dan bercerita dengan hati. Berjalan kaki mengelilingi taman sari, tak sengaja tedi melihat wanita yang tadi pagi pergi begitu saja, saat sehabis membawa korban tabrak lari kerumah sakit. Tedi menghampiri mala yang sedang tertunduk di atas bangku taman.
“kamu cewek yang tadi di rumah sakit itukan?” tanya tedi
mala tak menjawab
“ehh tuli, jawab aku” seru tedi agar mala menjawab
mala mendangakkan wajahnya yang sudah penuh air mata, dan dia lari meninggalkan tedi sendirian lagi.
“cewek aneh” tedi bicara sendiri.
“tedi, bude boleh tanya nak?” tanya bude sambil mengambil nasi
“boleh bude, mau tanya apa?” jawab tedi tersenyum
“kamu mau kerja dimana?” tanya bude
tedi termenung, dan diam sejenak,
“belum tau bude, rencananya aku mau bekerja di restoran kecil saja, sebagai koki” jawab tedi masih bingung
“emmm, bagus kalau begitu” jawab bude
“ibuu, ayo antar aku ke sekolah” potong neti
“berangkat sama mas tedi saja ya nak, ibu lagi sibuk ngurus kue nih” jawab bude sambil merapihkan kue ulang tahun.
“hemm ya sudah, ayo mas, anterin neti” seru neti kesal
“iya neti, mas manasin motor dulu” jawab tedi sambil ke kamar
beberapa menit memanaskan motor, dan di perjalanan mengantar neti ke sekolah, tedi melihat kekiri kekanan, untuk memastikan ada restoran yang membuka lowongan pekerjaan. Di sepanjang jalan ia tidak menemukan satupun restoran yang membuka lowongan kerja.
Sepulang dari mengantar neti ke sekolah, tedi sengaja berkeliling di sekitar pasar maliboro. Tiba-tiba tepat di depan resto santi milik mala, ia melihat ibu-ibu terbaring dan ternyata ibu itu korban tabrak lari, dengan cepat dia menolong karena suasana di jalan masih sedikit lengang, saat itu mala ingin pergi sebentar ke taman sari, seperti biasa, setiap pagi ia datang ke taman sari untuk bercerita dengan ibunya, setiap ada masalah pasti selalu di ungkapkan di taman yang indah itu. Saat mala keluar dari resto, dia melihat tedi sedang menolong ibu yang menjadi korban tabrak lari tadi.
“heeeeyy, ada apa ini, kamu tabrak ibu ini yaa?” tuduhan mala terhadap pria berambut kriting bekulit sawo matang
“jangan sembarang tuduh kamu” bantah tedi dengan nada kesal
“ya sudah, ayo kita bawa ke rumah sakit dekat sini” seru mala dengan tergesah gesah
tedi dan mala belum kenal satu sama lain, mereka membawa ibu tadi kerumah sakit terdekat. Tak lama setelah dirumah sakit, mala pergi meninggalkan tedi sendirian
“kamu mau kemana?” tanya tedi
“aku mau pergi, ada urusan” jawab mala ketus
“bagaimana nasib ibu tadi?” tanya tedi dengan wajah bingung
“kan kamu yang nabrak, jadi kamu yang harus tanggung jawab semuanya” tuduh mala, dan langsung pergi tak perduli
“sudah kubilang bukan aku yang menabraknya” jawab tedi dengan nada tinggi
orang-orang di sekitar tedi memandanginya dengan sinis, karena tedi berteriak di rumah sakit, salah satu pasien menunjuk tulisan “JANGAN BERISIK” di dinding rumah sakit.
Setelah urusan di rumah sakit selesai tedi pulang dengan wajah lesu, tedi bebicara dalam hati, “ini hari sialku atau apa ya, bertemu dengan wanita cantik tapi tak bertanggung jawab”
di perjalanan melanjutkan mencari pekerjaan, selama perjalanan dia tak mau lewat depan resto santi milik mala, dia takut sial lagi. Lama berjalan pelan dengan sepeda motor, tedi berhenti sejenak, dan beristirahat di sebuah taman, yang bernama taman sari, di mana taman itu tempat mala biasa mengenang ibunya dan bercerita dengan hati. Berjalan kaki mengelilingi taman sari, tak sengaja tedi melihat wanita yang tadi pagi pergi begitu saja, saat sehabis membawa korban tabrak lari kerumah sakit. Tedi menghampiri mala yang sedang tertunduk di atas bangku taman.
“kamu cewek yang tadi di rumah sakit itukan?” tanya tedi
mala tak menjawab
“ehh tuli, jawab aku” seru tedi agar mala menjawab
mala mendangakkan wajahnya yang sudah penuh air mata, dan dia lari meninggalkan tedi sendirian lagi.
“cewek aneh” tedi bicara sendiri.
Mala pun pergi ke resto untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Saat ingin memulai bekerja mala masih tersedak karena habis menangis
“kenapa mala, habis nangis ya?” tanya roy kepada mala yang sedang mencuci piring.
“enggak kok yah” jawab mala dengan suara pelan
“coba liat ayah sebentar” seru roy
setelah mala bebalik badan, roy melihat mata mala yang penuh dengan kerinduan dengan seseorang yang amat dia sayangi
“ayah tau kenapa, pasti kangen ibu kan?” tanya roy mengelus kepala mala
“iya yah, mala kangen sama ibu” jawab mala semakin sedih dan memeluk roy erat
“ya sudah, jangan sedih terus, nanti ibu juga sedih liat mala nangis begini, yang penting mala selalu berdoa untuk ibu” seru roy, menyemangati mala
mala terdiam
“sekarang kita kerja lagi, oh iya, belum ada ya, yang mau melamar di resto kita ini?” tanya roy tentang pekerjaan koki di restonya
“belum ada yah” jawab mala sambil membersihkan meja
hari mulai siang, dan pelanggan berdatangan silir berganti.
Tidak lama datang seorang pria dan duduk di meja nomer 3, dia memanggil mala
“pelayan” teriak pria tampan itu
“iya sebentar” jawab mala
“mau pesan . . . . “ terhenti ketika mala melihat bahwa yang memanggilnya dengan sebutan ‘pelayan’ itu adalah jimmi, kakak kelasnya dulu sewaktu SMA, mala sangat mengagumi jimmi, dan selalu mati kutu ketika jimmi menegur mala sewaktu di sekolah dulu
“mas jimmi, kan?” mala gugup
“iyaa saya jimmi, oohh iya, kamu mala adik kelas saya dulu waktu SMA, benerkan?” tanya ragu
“iya maas” jawab mala gugup
“kamu bekerja di sini mala?” tanya jimmi sambil melihat menu
“iya mas, ini resto milik ayahku” jawab mala
“oohh, jadi resto ini milik ayahmu” jawab jimmi
“mau pesan apa mas?” tanya mala
“saya mau pesan masakan yang spesial di resto ayahmu ini” jawab jimmi dengan senyum
wajah mala memerah karena jimmi tersenyum kepadanya.
“kenapa anak ayah kok kayaknya seneng banget?” tanya roy sambil masak
“enggak kok yah, biasa saja” jawab mala malu-malu
tiba-tiba yeni sepupu mala memotong
“habis kenalan sama cowok idaman tuh lek” yeni tertawa
“sembarangan aja kamu yen” bantah mala kesal
“ya sudah ayo kerja lagi sana” seru roy kepada mala dan yeni
Setelah selesai makan jimmi memanggil pelayan, namun bukan mala yang datang, karena mala sedang di kamar mandi, yeni yang menghampiri jimmi
“iya mas, ada yang bisa di bantu?” tanya yeni
“bisa pesan satu lagi yang saya makan tadi mbak, tapi di bungkus saja ya” jimmi memesan
“ada lagi mas” jawab yeni sambil menulis pesanan
jimmi terdiam memandangi yeni, dia teringat akan mantan kekasihnya yang dulu pergi meninggalkan dia sendiri di dunia.
“mass” tegur yenii
“oohh,, enggak mbk, itu saja” jawab jimmi terkejut
“di tunggu ya mas” seru yeni
“eeh, mbak tunggu sebentar, boleh tau siapa namanya?”tanya jimmi dengan senyum
“nama saya yeni, ada apa mas?” tanya yeni yang bingung
Saat ingin memulai bekerja mala masih tersedak karena habis menangis
“kenapa mala, habis nangis ya?” tanya roy kepada mala yang sedang mencuci piring.
“enggak kok yah” jawab mala dengan suara pelan
“coba liat ayah sebentar” seru roy
setelah mala bebalik badan, roy melihat mata mala yang penuh dengan kerinduan dengan seseorang yang amat dia sayangi
“ayah tau kenapa, pasti kangen ibu kan?” tanya roy mengelus kepala mala
“iya yah, mala kangen sama ibu” jawab mala semakin sedih dan memeluk roy erat
“ya sudah, jangan sedih terus, nanti ibu juga sedih liat mala nangis begini, yang penting mala selalu berdoa untuk ibu” seru roy, menyemangati mala
mala terdiam
“sekarang kita kerja lagi, oh iya, belum ada ya, yang mau melamar di resto kita ini?” tanya roy tentang pekerjaan koki di restonya
“belum ada yah” jawab mala sambil membersihkan meja
hari mulai siang, dan pelanggan berdatangan silir berganti.
Tidak lama datang seorang pria dan duduk di meja nomer 3, dia memanggil mala
“pelayan” teriak pria tampan itu
“iya sebentar” jawab mala
“mau pesan . . . . “ terhenti ketika mala melihat bahwa yang memanggilnya dengan sebutan ‘pelayan’ itu adalah jimmi, kakak kelasnya dulu sewaktu SMA, mala sangat mengagumi jimmi, dan selalu mati kutu ketika jimmi menegur mala sewaktu di sekolah dulu
“mas jimmi, kan?” mala gugup
“iyaa saya jimmi, oohh iya, kamu mala adik kelas saya dulu waktu SMA, benerkan?” tanya ragu
“iya maas” jawab mala gugup
“kamu bekerja di sini mala?” tanya jimmi sambil melihat menu
“iya mas, ini resto milik ayahku” jawab mala
“oohh, jadi resto ini milik ayahmu” jawab jimmi
“mau pesan apa mas?” tanya mala
“saya mau pesan masakan yang spesial di resto ayahmu ini” jawab jimmi dengan senyum
wajah mala memerah karena jimmi tersenyum kepadanya.
“kenapa anak ayah kok kayaknya seneng banget?” tanya roy sambil masak
“enggak kok yah, biasa saja” jawab mala malu-malu
tiba-tiba yeni sepupu mala memotong
“habis kenalan sama cowok idaman tuh lek” yeni tertawa
“sembarangan aja kamu yen” bantah mala kesal
“ya sudah ayo kerja lagi sana” seru roy kepada mala dan yeni
Setelah selesai makan jimmi memanggil pelayan, namun bukan mala yang datang, karena mala sedang di kamar mandi, yeni yang menghampiri jimmi
“iya mas, ada yang bisa di bantu?” tanya yeni
“bisa pesan satu lagi yang saya makan tadi mbak, tapi di bungkus saja ya” jimmi memesan
“ada lagi mas” jawab yeni sambil menulis pesanan
jimmi terdiam memandangi yeni, dia teringat akan mantan kekasihnya yang dulu pergi meninggalkan dia sendiri di dunia.
“mass” tegur yenii
“oohh,, enggak mbk, itu saja” jawab jimmi terkejut
“di tunggu ya mas” seru yeni
“eeh, mbak tunggu sebentar, boleh tau siapa namanya?”tanya jimmi dengan senyum
“nama saya yeni, ada apa mas?” tanya yeni yang bingung
“perkenalkan nama saya jimmi, saya
bekerja di kantor dekat sini, boleh saya minta nomer telpon kamu?” tanya jimmi
tanp malu-malu
“untuk apa mas?” tanya yeni kembali
“untuk berkomunikasi, dan menggalih pertemanan, bolehkan?” tanya jimmi dengan senyum
“baiklah tapi jangan di sebar luaskan ke siapa-siapa ya!” seru yeni, sambil menulis nomer telponnya
Jimmi terlihat sedang kasmaran, melihat yeni yang mungkin sangat menawan di matanya, atau karena dia mirip dengan mantannya
“untuk apa mas?” tanya yeni kembali
“untuk berkomunikasi, dan menggalih pertemanan, bolehkan?” tanya jimmi dengan senyum
“baiklah tapi jangan di sebar luaskan ke siapa-siapa ya!” seru yeni, sambil menulis nomer telponnya
Jimmi terlihat sedang kasmaran, melihat yeni yang mungkin sangat menawan di matanya, atau karena dia mirip dengan mantannya
Mala dan yeni kembali bekerja.
Malam pun datang, dan waktunya tutup.
“ayah, mala pulang saja ke rumah, mala pulang bareng yeni” teriak mala dari luar resto
setelah sampai di rumah, tepatnya di kamar mala, di membuka buku diary lamanya waktu SMA dulu, dia menulis semua tentang isi hatinya tadi siang di resto, sampai akhirnya mala tertidur, kali ini dia sudah mandi.
yeni sepupu mala, menerima pesan di telepon genggamnya, dan ternyata itu dari jimmi, tetapi tak di respon oleh yeni.
sedangkan jimmi menunggu balasan dari yeni, sambil mengerjakan tugas dari kantornya.
Tiba-tiba telpon genggam yeni bergetar, ternyata jimmi menelpon yeni.
“halo” yeni mengangkat telponya
“yeni, sedang apa?” terdengar dari telpon genggam yeni
“baru mau tidur” jawab yeni ketus
“ohh, mau tidur ya” jawab jimmi
“iya” jawab yeni ketus lagi
“ya sudah tidur sana” seru jimmi sambil tertawa kecil.
Tanpa salam yeni memutuskan telpon, jimmi terheran-heran dengan tingkah yeni, dia melanjutkan pekerjaannya.
Malam sudah larut di rumah bude sum, tedi masih menyaksikan film favoritnya, sampai-sampai dia tertidur di ruang keluarga.
Pagi harinya dia di bangunkan oleh bude sum, setelah bangun, tedi di sodorkan pertanyaan dari bude sum
“kamu enggak cari kerja ted?” tanya bude
“iya bude, nanti siang saja, masih ngantuk” jawab tedi sambil berjalan ke kamar
“ya sudah, awas kalau nanti siang gak cari kerja, bude usir kamu dari rumah” candaan bude sum
“baiklah bude” jawab tedi
tedi melanjutkan tidurnya, sedangkan bude sum mangantar neti ke sekolah.
Pagi hari di resto santi, mala berharap pria idamannya itu datang lagi hari ini, sedangkan yeni merapihkan meja makan pelanggan.
Siang hari waktunya kerja keras melayani para pelanggan, mala melayani pelanggannya seperti biasa, dengan sopan dan ramah, di sertai manis senyumnya yang mempesona.
Tiba-tiba roy merintah mala untuk membuang sampah yang sudah menumpuk dari kemarin, membuang sampah hal yang paling mala tidak suka, karena bauknya yang menyengat.
Mari mulai siang, tedi mulai berkeliling mencari lowongan pekerjaan di sepanjang jalan malioboro, di perjalanan tedi melihat seorang wanita bekerja di sebuah restoran, awalnya tedi tak mau menghampirinya, tetapi tedi tak tega melihat wanita itu keberatan saat ingin membuang sampah yang sangat banyak dari dalam restoran. Pelan perlahan tedi menghampirinya dan turun dari sepeda motor.
“ayah, mala pulang saja ke rumah, mala pulang bareng yeni” teriak mala dari luar resto
setelah sampai di rumah, tepatnya di kamar mala, di membuka buku diary lamanya waktu SMA dulu, dia menulis semua tentang isi hatinya tadi siang di resto, sampai akhirnya mala tertidur, kali ini dia sudah mandi.
yeni sepupu mala, menerima pesan di telepon genggamnya, dan ternyata itu dari jimmi, tetapi tak di respon oleh yeni.
sedangkan jimmi menunggu balasan dari yeni, sambil mengerjakan tugas dari kantornya.
Tiba-tiba telpon genggam yeni bergetar, ternyata jimmi menelpon yeni.
“halo” yeni mengangkat telponya
“yeni, sedang apa?” terdengar dari telpon genggam yeni
“baru mau tidur” jawab yeni ketus
“ohh, mau tidur ya” jawab jimmi
“iya” jawab yeni ketus lagi
“ya sudah tidur sana” seru jimmi sambil tertawa kecil.
Tanpa salam yeni memutuskan telpon, jimmi terheran-heran dengan tingkah yeni, dia melanjutkan pekerjaannya.
Malam sudah larut di rumah bude sum, tedi masih menyaksikan film favoritnya, sampai-sampai dia tertidur di ruang keluarga.
Pagi harinya dia di bangunkan oleh bude sum, setelah bangun, tedi di sodorkan pertanyaan dari bude sum
“kamu enggak cari kerja ted?” tanya bude
“iya bude, nanti siang saja, masih ngantuk” jawab tedi sambil berjalan ke kamar
“ya sudah, awas kalau nanti siang gak cari kerja, bude usir kamu dari rumah” candaan bude sum
“baiklah bude” jawab tedi
tedi melanjutkan tidurnya, sedangkan bude sum mangantar neti ke sekolah.
Pagi hari di resto santi, mala berharap pria idamannya itu datang lagi hari ini, sedangkan yeni merapihkan meja makan pelanggan.
Siang hari waktunya kerja keras melayani para pelanggan, mala melayani pelanggannya seperti biasa, dengan sopan dan ramah, di sertai manis senyumnya yang mempesona.
Tiba-tiba roy merintah mala untuk membuang sampah yang sudah menumpuk dari kemarin, membuang sampah hal yang paling mala tidak suka, karena bauknya yang menyengat.
Mari mulai siang, tedi mulai berkeliling mencari lowongan pekerjaan di sepanjang jalan malioboro, di perjalanan tedi melihat seorang wanita bekerja di sebuah restoran, awalnya tedi tak mau menghampirinya, tetapi tedi tak tega melihat wanita itu keberatan saat ingin membuang sampah yang sangat banyak dari dalam restoran. Pelan perlahan tedi menghampirinya dan turun dari sepeda motor.
“perlu bantuan?” tawaran tedi dengan
lembut.
“tidak...” jawab mala ketus.
“sepertinya kamu butuh bantuanku” tawaran memaksa.
“siapa sih kamu, kenal juga enggak, pergi sana!” tanggapan mala dengan emosi.
“perkenalkan nama saya . . . . “ tedi terhenti
“kamu lagi, wanita tak punya rasa tanggung jawab” seru tedi tegas
“siapa yang tak punya tanggung jawab, aku kemarin memang sedang ada urusan di taman sari” jawab malah dengan keras
“tak ada urusan menangis di taman sendirian, wanita aneh” ejek tedi.
“kamu yang aneh, kenal juga enggak, main tegur-tegur saja, sok kenal” seru sambil menggibas rambut.
“eehh, siapa nama kamu?” tanya tedi seakan ingin tahu
“namaku mala” jawab mala seakan tak peduli
“namaku tedi” sahut tedi
mala membalikkan badan
“aku tidak tanya siapa nama kamu” jawab mala ketus
“setidaknya saya memberi tau kamu” jawab tedi lembut
ketika mala ingin masuk tedi memanggilnya lagi
“malaa, apa benar di restoran tempat kamu kerja membutuhkan karyawan?” tanya tedi membutuhkan
“iya, tapi yang bisa masak saja” jawab mala ketus.
“aku bisa masak, aku lulusan tata boga di bandung, boleh aku bertemu dengan yang punya resto?” tanya tedi.
“aku yang punya resto ini, dan ayahku yang mengelolahnya” jawab mala
“ahh, serius, tidak ada tampang pemimpin di keningmu” ejek tedi tersenyum
“ya sudah, kalau tidak percaya” jawab mala dengan wajah kesal
“baik-baik, aku percaya, bisa aku bertemu ayahmu?” tanya tedi
“ masuk saja ke dalam dan bicaralah yang sopan dengan ayahku” seru mala.
“tidak...” jawab mala ketus.
“sepertinya kamu butuh bantuanku” tawaran memaksa.
“siapa sih kamu, kenal juga enggak, pergi sana!” tanggapan mala dengan emosi.
“perkenalkan nama saya . . . . “ tedi terhenti
“kamu lagi, wanita tak punya rasa tanggung jawab” seru tedi tegas
“siapa yang tak punya tanggung jawab, aku kemarin memang sedang ada urusan di taman sari” jawab malah dengan keras
“tak ada urusan menangis di taman sendirian, wanita aneh” ejek tedi.
“kamu yang aneh, kenal juga enggak, main tegur-tegur saja, sok kenal” seru sambil menggibas rambut.
“eehh, siapa nama kamu?” tanya tedi seakan ingin tahu
“namaku mala” jawab mala seakan tak peduli
“namaku tedi” sahut tedi
mala membalikkan badan
“aku tidak tanya siapa nama kamu” jawab mala ketus
“setidaknya saya memberi tau kamu” jawab tedi lembut
ketika mala ingin masuk tedi memanggilnya lagi
“malaa, apa benar di restoran tempat kamu kerja membutuhkan karyawan?” tanya tedi membutuhkan
“iya, tapi yang bisa masak saja” jawab mala ketus.
“aku bisa masak, aku lulusan tata boga di bandung, boleh aku bertemu dengan yang punya resto?” tanya tedi.
“aku yang punya resto ini, dan ayahku yang mengelolahnya” jawab mala
“ahh, serius, tidak ada tampang pemimpin di keningmu” ejek tedi tersenyum
“ya sudah, kalau tidak percaya” jawab mala dengan wajah kesal
“baik-baik, aku percaya, bisa aku bertemu ayahmu?” tanya tedi
“ masuk saja ke dalam dan bicaralah yang sopan dengan ayahku” seru mala.
Tedi masuk dan menemui roy untuk interview, saat itu resto sedang sepi,
tedi menjelaskan kepada roy, bahwa dia memiliki banyak pengetahuan tentang
masak memasak, walaupun tak sehebat roy. Mala memandangi tedi yang sangat mahir
dalam berbicara tentang masakan, mala sedikit terkesan dengan tedi, walaupun
mala menganggap tedi menyebalkan.
“hayoo, ngapain ngintip-ngintip” yeni mengejutkan mala
“apaan sih, ngagetin aja, siapa juga yang ngintip, Cuma enggak sengaja liat keluar” jawab mala mengelak
“bagus dehh, ya sudah cuci piring lagi sana, gantian” seru yeni
beberapa menit tedi ngobrol dengan roy, akhirnya roy tertarik dengan apa yang di sampaikan tedi.
“baiklah nak tedi, besok sudah bisa mulai masak yaa” seru roy
“terima kasih pak roy” jawab tedi dengan wajah gembira.
Tedi pulang dengan membawa kabar gembira untuk bude sum, sedangkan mala masih merengut karena jimmi pria idamannya itu tak berkunjung ke resto hari ini.
“hayoo, ngapain ngintip-ngintip” yeni mengejutkan mala
“apaan sih, ngagetin aja, siapa juga yang ngintip, Cuma enggak sengaja liat keluar” jawab mala mengelak
“bagus dehh, ya sudah cuci piring lagi sana, gantian” seru yeni
beberapa menit tedi ngobrol dengan roy, akhirnya roy tertarik dengan apa yang di sampaikan tedi.
“baiklah nak tedi, besok sudah bisa mulai masak yaa” seru roy
“terima kasih pak roy” jawab tedi dengan wajah gembira.
Tedi pulang dengan membawa kabar gembira untuk bude sum, sedangkan mala masih merengut karena jimmi pria idamannya itu tak berkunjung ke resto hari ini.
Yeni senyum-senyum sendiri setelah
melihat SMS dari jimmi, dia sepertinya mulai menyukai jimmi, dan yeni tidak
tau, bahwa jimmi adalah pria yang di kagumi oleh sepupunya itu.
Yeni di janjikan malam minggu ini untuk pergi nonton bioskop bersama jimmi.
“seneng banget yeen?” tanya mala dengan senyum manisnya
“iya dong, ada cowok yang mengajakku nonton bioskop malam ini” jawab yeni dengan wajah memerah
“hemm, pantas saja, dari tadi senyum-senyum sendiri”
malam yang di tunggu oleh yeni tiba, jimmi menjemput yeni di rumahnya, sudah siap dan mereka berdua berangkat.
Yeni yang sedang kasmara, sebaliknya mala yang merana meratapi malam minggunya dengan hati yang kosong. Setelah selesai nonton jimmi dan yeni makan malam di pinggir jalan dengan romantis.
Saat makan berdua, jimmi menyatakan sebuah perasaannya kepada yeni, memang singkat, tapi sangat terasa, baru beberapa hari bertemu, tetapi terasa sudah lama. Yeni pun kelihatan bingung, dengan melontarkan beberapa petanyan kepadaya, jimmi dengan lancar menjawab pertanyaannya, sehingga yeni menerima pertanyaan dari jimmi, dan malam itu mereka menjadi sepasang kekasih.
Mala merasa suntuk dirumah, sengaja malam itu dia berkeliling menikmati malam minggu di kota yogyakarta yang sangat ramai, menggunakan sepeda ontel milik ayahnya. Saat berjalan mala melihat jimmi sedang menggandeng seorang wanita, dia bergegas mendekati jimmi, karena terburu-buru mala menabrak seorang pria, dan pria itu adalah tedi.
“aduuh, pelan-pelan dong mbak naik sepedanya” seru tedi kesakitan memegang kaki.
“maaf mas . . . . “
“tedi, ya ampun maaf tedi, aku enggak sengaja, aku harus cepat-cepat pergi, ada urusan penting” jawab mala dengan terburu-buru
“sepenting apa coba, lebih penting bertanggung jawab tau” seru tedi kesal
mala lagi-lagi meninggalkan tedi dengan kesan tidak bertanggung jawab.
Mala terus mencari jimmi, dan berpapasan tepat di depan wajah yeni, terkejut yang dia lihat bersama yeni itu adalah jimmi, pria idamannya sejak dulu SMA, wajah mala terlihat kaku dan bingung.
“mala, sedang apa kamu di sini?” tanya yeni
mala hanya diam
“mas, ini sepupuku namanya mala” yeni perkenalkan mala kepada jimmi
“iya sayang, aku sudah kenal kok” jawab jimmi dengan senyum
“ya kan mala?” tanya jimmi
“hey mala, kenapa bengong?” tanya yeni
“eh,eh, enggak kenapa-kenapa kok yen, mas” jawab mala dengan senyum yang menyelimuti kesakitan hatinya.
Mala pun pergi dari hadapan mereka berdua, bersepeda dengan kencang, dan tak sengaja tedi melihat mala ngebut menggunakan sepeda ontel. Tedi berinisiatif untuk melihat-lihat ke taman sari malam itu, karena dia berpikiran mala akan kesana, dan ternyata benar, tedi melihat mala menangis sendirian di atas bangku taman.
Tedi duduk di samping mala yang sedang menangis.
“hey, cengeng banget, kok nangis” ejek tedi pelan
mala tak menjawab
“kenapa, kok nangis lagi, cerita sama aku” seru tedi dengan lembut dan duduk di sebelah mala.
“sakit banget hati aku” jawab mala sesak menangis
“kenapa?” tanya tedi ingin tahu
“aku suka sama cowok dari waktu SMA dulu, dan sekarang cowok itu malah pacaran sama sepupu aku sendiri, padahal aku berharap dia menanggapi rasa yang aku miliki sama dia, ternyata enggak, cinta aku bertepuk sebelah tangan.” Jelas mala sambil menangis
“dari mana kamu tahu mereka pacaran” tanya tedi
“tadi waktu di malioboro” jawab mala
“ya sudah jangan di rasakan banget, semua rasa kamu sama dia bisa berubah, jika kamu menyukai orang lain, percaya deh sama aku” saran tedi.
“heemm, akan aku coba, walaupun sepertinya agak sulit” jawab mala sedih
“waktu yang akan menjawab” potong tedi dengan penuh wibawa
“terima kasih ya ted, untuk sarannya, oh iya besok jangan lupa datang pagi-pagi ke restonya, bantu aku beres-beres resto” seru mala
“oke bos” jawab tedi dengan senyum
tedi pergi membeli tisu dan es krim untuk mala, meraka mulai bercerita dan bercanda, dengan niat tedi yang ingin menghibur saja, tedipun merasa jatuh di tumpukan bunga-bunga ketika melihat senyum mala yang amat manis. Begitu juga mala, dia merasa nyaman ketika bercanda dan bercerita berdua bersama tedi.
Malam yang bahagia, walaupun hati yang tak sedang berbahagia.
semakin larut, tidak mau kesiangan besok, mereka pulang ke rumah masing-masing Dan mereka saling membayangkan satu sama lain di atas kasur hingga terlelap.
Yeni di janjikan malam minggu ini untuk pergi nonton bioskop bersama jimmi.
“seneng banget yeen?” tanya mala dengan senyum manisnya
“iya dong, ada cowok yang mengajakku nonton bioskop malam ini” jawab yeni dengan wajah memerah
“hemm, pantas saja, dari tadi senyum-senyum sendiri”
malam yang di tunggu oleh yeni tiba, jimmi menjemput yeni di rumahnya, sudah siap dan mereka berdua berangkat.
Yeni yang sedang kasmara, sebaliknya mala yang merana meratapi malam minggunya dengan hati yang kosong. Setelah selesai nonton jimmi dan yeni makan malam di pinggir jalan dengan romantis.
Saat makan berdua, jimmi menyatakan sebuah perasaannya kepada yeni, memang singkat, tapi sangat terasa, baru beberapa hari bertemu, tetapi terasa sudah lama. Yeni pun kelihatan bingung, dengan melontarkan beberapa petanyan kepadaya, jimmi dengan lancar menjawab pertanyaannya, sehingga yeni menerima pertanyaan dari jimmi, dan malam itu mereka menjadi sepasang kekasih.
Mala merasa suntuk dirumah, sengaja malam itu dia berkeliling menikmati malam minggu di kota yogyakarta yang sangat ramai, menggunakan sepeda ontel milik ayahnya. Saat berjalan mala melihat jimmi sedang menggandeng seorang wanita, dia bergegas mendekati jimmi, karena terburu-buru mala menabrak seorang pria, dan pria itu adalah tedi.
“aduuh, pelan-pelan dong mbak naik sepedanya” seru tedi kesakitan memegang kaki.
“maaf mas . . . . “
“tedi, ya ampun maaf tedi, aku enggak sengaja, aku harus cepat-cepat pergi, ada urusan penting” jawab mala dengan terburu-buru
“sepenting apa coba, lebih penting bertanggung jawab tau” seru tedi kesal
mala lagi-lagi meninggalkan tedi dengan kesan tidak bertanggung jawab.
Mala terus mencari jimmi, dan berpapasan tepat di depan wajah yeni, terkejut yang dia lihat bersama yeni itu adalah jimmi, pria idamannya sejak dulu SMA, wajah mala terlihat kaku dan bingung.
“mala, sedang apa kamu di sini?” tanya yeni
mala hanya diam
“mas, ini sepupuku namanya mala” yeni perkenalkan mala kepada jimmi
“iya sayang, aku sudah kenal kok” jawab jimmi dengan senyum
“ya kan mala?” tanya jimmi
“hey mala, kenapa bengong?” tanya yeni
“eh,eh, enggak kenapa-kenapa kok yen, mas” jawab mala dengan senyum yang menyelimuti kesakitan hatinya.
Mala pun pergi dari hadapan mereka berdua, bersepeda dengan kencang, dan tak sengaja tedi melihat mala ngebut menggunakan sepeda ontel. Tedi berinisiatif untuk melihat-lihat ke taman sari malam itu, karena dia berpikiran mala akan kesana, dan ternyata benar, tedi melihat mala menangis sendirian di atas bangku taman.
Tedi duduk di samping mala yang sedang menangis.
“hey, cengeng banget, kok nangis” ejek tedi pelan
mala tak menjawab
“kenapa, kok nangis lagi, cerita sama aku” seru tedi dengan lembut dan duduk di sebelah mala.
“sakit banget hati aku” jawab mala sesak menangis
“kenapa?” tanya tedi ingin tahu
“aku suka sama cowok dari waktu SMA dulu, dan sekarang cowok itu malah pacaran sama sepupu aku sendiri, padahal aku berharap dia menanggapi rasa yang aku miliki sama dia, ternyata enggak, cinta aku bertepuk sebelah tangan.” Jelas mala sambil menangis
“dari mana kamu tahu mereka pacaran” tanya tedi
“tadi waktu di malioboro” jawab mala
“ya sudah jangan di rasakan banget, semua rasa kamu sama dia bisa berubah, jika kamu menyukai orang lain, percaya deh sama aku” saran tedi.
“heemm, akan aku coba, walaupun sepertinya agak sulit” jawab mala sedih
“waktu yang akan menjawab” potong tedi dengan penuh wibawa
“terima kasih ya ted, untuk sarannya, oh iya besok jangan lupa datang pagi-pagi ke restonya, bantu aku beres-beres resto” seru mala
“oke bos” jawab tedi dengan senyum
tedi pergi membeli tisu dan es krim untuk mala, meraka mulai bercerita dan bercanda, dengan niat tedi yang ingin menghibur saja, tedipun merasa jatuh di tumpukan bunga-bunga ketika melihat senyum mala yang amat manis. Begitu juga mala, dia merasa nyaman ketika bercanda dan bercerita berdua bersama tedi.
Malam yang bahagia, walaupun hati yang tak sedang berbahagia.
semakin larut, tidak mau kesiangan besok, mereka pulang ke rumah masing-masing Dan mereka saling membayangkan satu sama lain di atas kasur hingga terlelap.
Matahari terbit dari timur dan terbenam di barat,
itu merupakan perubahan waktu, yang jika tak di manfaatkan maka hidup kita akan sia-sia.
Pagi pertama tedi bekerja di resto mala, tetapi tedi di sarankan roy untuk menghafal menu yang ada di resto, baik yang tradisional maupun makan modern.
Hari selalu berjalan dan tidak terasa sudah tiga hari tedi bekerja di resto
milik mala, resto pun makin ramai pengunjung. Dengan hadirnya mala, tedi terlihat sangat bersemangat, begitu juga mala, sangat bersemangat menebar senyum pada
para pelanggannya.
Mala semakin mengenal tedi, semakin
banyak pengalaman yang dia dapat, mala merasakan hal yang mungkin di miliki
oleh tedi, mala jatuh cinta, ketika melihat tedi sedang masak. Semua yang mala
rasakan di tuangkan di dalam buku diarynya, saat sedang di panggil roy, buku
diarynya jatuh dan tidak sengaja yeni menginjaknya, dan melihat semua isi buku
itu, terpaku melihat isi bukunya, mala datang dan merebut buku itu dari tangan
yeni
“mala, aku bener-bener enggak tau, kalau kamu suka sama jimmi, aku minta maaf mala” yeni dengan wajah bersalah
“sudahlah yen, semua sudah berlalu, rasa itu juga sudah tergantikan dengan yang baru” jawab mala dengan senyum
“siapa-siapa?” tanya yeni
“dia ada di sini kok yen” wajah mala memerah
tiba-tiba tedi memotong pembicaraan mereka berdua
“ehem, nona-nona, apa ada pesanan lagi” tanya tedi seakan menyindir
“sepertinya tidak ada pak koki” jawab mala tersenyum
tedi tidak sengaja mendengar pembicaraan mala dengan yeni, dan tedi ternyata memiliki rasa yang sama dengan mala.
“mala, aku bener-bener enggak tau, kalau kamu suka sama jimmi, aku minta maaf mala” yeni dengan wajah bersalah
“sudahlah yen, semua sudah berlalu, rasa itu juga sudah tergantikan dengan yang baru” jawab mala dengan senyum
“siapa-siapa?” tanya yeni
“dia ada di sini kok yen” wajah mala memerah
tiba-tiba tedi memotong pembicaraan mereka berdua
“ehem, nona-nona, apa ada pesanan lagi” tanya tedi seakan menyindir
“sepertinya tidak ada pak koki” jawab mala tersenyum
tedi tidak sengaja mendengar pembicaraan mala dengan yeni, dan tedi ternyata memiliki rasa yang sama dengan mala.
Malam tiba, dan waktunya untuk pulang.
Tedi menawarkan mala untuk pulang
bareng, mala tak menolak, perjalanan pulang mala memeluk erat tubuh tedi,
karena malam itu dingin sekali.
Bulan pada malam itu sangat tampak nyata, dan sebagai saksi bahwa cinta datang karena terbiasa.
Setelah mengantar mala pulang, tedi juga pulang kerumah dengan sejuta kebahagiaan, begitu juga dengan mala, hatinya sangat berbunga-bunga ketika di ajak pulang bareng, dan saat ingin tidurpun, masih terbawa senyum-senyum sendiri, membayangkan tedi, pria yang saat ini membuatnya nyaman dan bahagia.
Mala berharap mimpi indah malam itu.
Bulan pada malam itu sangat tampak nyata, dan sebagai saksi bahwa cinta datang karena terbiasa.
Setelah mengantar mala pulang, tedi juga pulang kerumah dengan sejuta kebahagiaan, begitu juga dengan mala, hatinya sangat berbunga-bunga ketika di ajak pulang bareng, dan saat ingin tidurpun, masih terbawa senyum-senyum sendiri, membayangkan tedi, pria yang saat ini membuatnya nyaman dan bahagia.
Mala berharap mimpi indah malam itu.
Pagi datang lagi, hari ini resto tutup
karena tanggal merah, tedi berencana mengajak mala jalan ke taman sari, saat
ingin mengajaknya jalan, tedi terkejut, saat menelpon mala.
“halo, selamat pagi mala” sapaan tedi
“iya, ada apa tedi?” tanya mala
“begini, karena hari ini kita libur, mau enggak, kalau kita jalan ke taman sari?” tawaran tedi malu-malu
“tedi, aku sudah di taman sari sekarang, kalau mau ketemu, kesini aja” ajak mala berharap
“baiklah, tunggu yaa, jangan kemana-mana, aku juga ingin mengatakan hal yang sangat penting tentang perasaanku” jawab tedi membuat mala penasaran.
Tedi pun bergegas menemui mala di taman sari, sesampai di taman.
Tedi duduk di samping kanan mala, dan mala menceritakan semua tentang kenangan taman ini bersama almarhum ibunya, tedi terkejut, ketika mendengar mala tidak mempunyai ibu lagi, dan sebaliknya tedi becerita panjang lebar tentang dirinya, dan keluarganya, pembicaraan itu membuat tedi lupa akan apa yang harus dia sampaikan kepada mala. Beberapa jam setelah bercerita, merak sekarang saling mengetahui satu sama lain, dan mulai memahami satu sama lain
tedi ingat apa yang ingin dia sampaikan
“mala, boleh aku tanya sedikit tentang privasimu?” tanya tedi malu-malu
“boleh, nanya apa?” jawab mengembalikan pertanyaan
“kamu saat itu sudah punya pacar?” tanya tedi dengan gugup
“saat ini belum, tetapi ada seorang pria yang membuat aku nyaman, kalau sedang di dekat dia” jawab mala sambil memandang wajah tedi
“siapa mala?” tanya tedi takut
“orangnya ada di samping kanan aku, ted” jawab mala senyum memandang wajah tedi yang memerah
“ya ampun, ini enggak mimpikan?” tanya tedi seakan tak percaya
“enggak kok, dan semoga orang itu punya rasa yang sama denganku” jawab mala penuh harap
“mala, kalau boleh jujur, aku suka sama kamu, dan aku memendam rasa sayang sama kamu” tedi dengan jelas
“aku juga ted, sayang sama kamu” jawab mala senyum
“saat ini, dan pagi ini, kamu mau mengisi hati aku yang saat ini kosong?” tanya tedi dengan penuh cinta
“aku bersedia, mengisi hatimu yang kosong itu” jawab mala dengan yakin.
Di hari itu, hari yang bahagia untuk meraka berdua, mereka saling menyayangi dan mencintai, saksi cinta mereka adalah bunga yang saat itu sedang mekar dan tumbuh indah. Mereka berdua bepacaran.
“halo, selamat pagi mala” sapaan tedi
“iya, ada apa tedi?” tanya mala
“begini, karena hari ini kita libur, mau enggak, kalau kita jalan ke taman sari?” tawaran tedi malu-malu
“tedi, aku sudah di taman sari sekarang, kalau mau ketemu, kesini aja” ajak mala berharap
“baiklah, tunggu yaa, jangan kemana-mana, aku juga ingin mengatakan hal yang sangat penting tentang perasaanku” jawab tedi membuat mala penasaran.
Tedi pun bergegas menemui mala di taman sari, sesampai di taman.
Tedi duduk di samping kanan mala, dan mala menceritakan semua tentang kenangan taman ini bersama almarhum ibunya, tedi terkejut, ketika mendengar mala tidak mempunyai ibu lagi, dan sebaliknya tedi becerita panjang lebar tentang dirinya, dan keluarganya, pembicaraan itu membuat tedi lupa akan apa yang harus dia sampaikan kepada mala. Beberapa jam setelah bercerita, merak sekarang saling mengetahui satu sama lain, dan mulai memahami satu sama lain
tedi ingat apa yang ingin dia sampaikan
“mala, boleh aku tanya sedikit tentang privasimu?” tanya tedi malu-malu
“boleh, nanya apa?” jawab mengembalikan pertanyaan
“kamu saat itu sudah punya pacar?” tanya tedi dengan gugup
“saat ini belum, tetapi ada seorang pria yang membuat aku nyaman, kalau sedang di dekat dia” jawab mala sambil memandang wajah tedi
“siapa mala?” tanya tedi takut
“orangnya ada di samping kanan aku, ted” jawab mala senyum memandang wajah tedi yang memerah
“ya ampun, ini enggak mimpikan?” tanya tedi seakan tak percaya
“enggak kok, dan semoga orang itu punya rasa yang sama denganku” jawab mala penuh harap
“mala, kalau boleh jujur, aku suka sama kamu, dan aku memendam rasa sayang sama kamu” tedi dengan jelas
“aku juga ted, sayang sama kamu” jawab mala senyum
“saat ini, dan pagi ini, kamu mau mengisi hati aku yang saat ini kosong?” tanya tedi dengan penuh cinta
“aku bersedia, mengisi hatimu yang kosong itu” jawab mala dengan yakin.
Di hari itu, hari yang bahagia untuk meraka berdua, mereka saling menyayangi dan mencintai, saksi cinta mereka adalah bunga yang saat itu sedang mekar dan tumbuh indah. Mereka berdua bepacaran.
Setengah tahun hubungan mereka berjalan, sedangkan hubungan jimmi dan yeni,
kandas di tengah jalan, itu karena perkenlan yang singkat.
siang hari waktunya makan siang, jimmi
datang ke resto, dan memesan makanan seperti biasanya, saat makanan tiba di
bawa oleh mala, jimmi menyuruh mala duduk di hadapannya, mala tak terlihat
gugup lagi, jimmi pun membicarakan perasaannya kepada mala.
“mala, mas jimmi sadar, kalau ada yang mencintai mas jimmi saat ini” pernyataan jimmi
“siapa mas?” tanya mala, tak tau apa-apa
“kamu mala, mala mau jadi pendamping hidup mas jimmi?” pertanyaan yang menggoncang jiwa mala
memandang kebelakang, melihat tedi yang saat itu sudah mengisi hatinya
“maaf mas, mala enggak bisa”jawab mala dengan senyuman manisnya
“kenapa enggak bisa?” tanya jmmi memaksa
“sudah ada orang lain di hati mala” jawab mala
“hemm, telat ya berarti, ya sudahlah enggak apa-apa” jawab jimmi lesu
“iya mas, maaf ya” tanggapan mala
jimmi pergi meninggalkan mala tanpa menyentuh makanan pesanannya
dan mala pun membereskan makanan yang di tinggal jimmi.
“mala, mas jimmi sadar, kalau ada yang mencintai mas jimmi saat ini” pernyataan jimmi
“siapa mas?” tanya mala, tak tau apa-apa
“kamu mala, mala mau jadi pendamping hidup mas jimmi?” pertanyaan yang menggoncang jiwa mala
memandang kebelakang, melihat tedi yang saat itu sudah mengisi hatinya
“maaf mas, mala enggak bisa”jawab mala dengan senyuman manisnya
“kenapa enggak bisa?” tanya jmmi memaksa
“sudah ada orang lain di hati mala” jawab mala
“hemm, telat ya berarti, ya sudahlah enggak apa-apa” jawab jimmi lesu
“iya mas, maaf ya” tanggapan mala
jimmi pergi meninggalkan mala tanpa menyentuh makanan pesanannya
dan mala pun membereskan makanan yang di tinggal jimmi.
Seiring bergantinya hari, bahkan berganti bulan, semakin terkenal resto santi milik mala.
Dua tahun bekerja, dan sukses menjadi koki, sukses juga menjaga hati anak
seorang koki hebat di yogyakarta, Tedi di ajak berbicara empat mata dengan roy,
tedi berperasaan tidak enak, ternyata roy menyuruh tedi membuka cabang di bandung,
meskipun masih bingung dan ragu akan tawaran roy, tedi tetap menjalankan amanah
itu, mala tidak sengaja menguping pembicaraan mereka bedua.
tetapi, tedi harus berhubungan jarak jauh dengan mala, itu yang membuat tedi sedih.
“mas, aku enggak apa-apa kamu tinggalin sementara, asal jangan hati kamu yang ninggali aku” mala dengan wajah tidak ikhlas
“iya mala, mas selalu jaga hati dan perasaanku, untuk satu orang wanita yang membuat mas bahagia, yaitu kamu, mas janji akan membawa pulang nama baik ibumu resto santi, dan ayahmu, serta mambawa sejuta kerinduanku padamu” jelas tedi kepada mala
“aku pegang janjimu mas” mala penuh harapan
meskipun di tinggal, dan pasti akan terasa sepi, mala menangis kecil di belakang resto, roy melihat mala menangis
“anak ayah kok nangis?”tanya roy baru datang
tetapi, tedi harus berhubungan jarak jauh dengan mala, itu yang membuat tedi sedih.
“mas, aku enggak apa-apa kamu tinggalin sementara, asal jangan hati kamu yang ninggali aku” mala dengan wajah tidak ikhlas
“iya mala, mas selalu jaga hati dan perasaanku, untuk satu orang wanita yang membuat mas bahagia, yaitu kamu, mas janji akan membawa pulang nama baik ibumu resto santi, dan ayahmu, serta mambawa sejuta kerinduanku padamu” jelas tedi kepada mala
“aku pegang janjimu mas” mala penuh harapan
meskipun di tinggal, dan pasti akan terasa sepi, mala menangis kecil di belakang resto, roy melihat mala menangis
“anak ayah kok nangis?”tanya roy baru datang
Mala terdiam masih menangis
“ayah Cuma mau mewujudkan impiannya, berkat dia resto kita sekarang terkenal di malioboro, bahkan se-jogja, maka dari itu ayah akan membuka cabang di bandung kota kelahirannya, semoga saja dia sukses di sana dan dia kembali kepada kita”jelas roy
“itu bukan alasan yang logis ayahh” bentak mala menangis
“menurut ayah tidak apa jika harus mengorbankan perasaan, untuk melihat orang yang kita sayangi menjadi orang yang sukses” jawab roy pelan
“kenapa harus tedi yah?” tanya mala
“ya tadi itu, ayah terkesan dengan semua ceritanya, dia ingin sekali menjadi koki terkenal yang memiliki resto sendiri, itulah impian tedi sejak dulu, tidak ada salahnyakan ayah membantu?” jawab roy
“tidak juga sih, ayah yakin dia tidak akan meninggalkan kita?” tanya mala ragu
“iya mala, dia anak yang jujur dan bertanggung jawab kok” jawab roy
mala berhenti menangis, dan kembali tersenyum dan memeluk ayahnya.
“ayah Cuma mau mewujudkan impiannya, berkat dia resto kita sekarang terkenal di malioboro, bahkan se-jogja, maka dari itu ayah akan membuka cabang di bandung kota kelahirannya, semoga saja dia sukses di sana dan dia kembali kepada kita”jelas roy
“itu bukan alasan yang logis ayahh” bentak mala menangis
“menurut ayah tidak apa jika harus mengorbankan perasaan, untuk melihat orang yang kita sayangi menjadi orang yang sukses” jawab roy pelan
“kenapa harus tedi yah?” tanya mala
“ya tadi itu, ayah terkesan dengan semua ceritanya, dia ingin sekali menjadi koki terkenal yang memiliki resto sendiri, itulah impian tedi sejak dulu, tidak ada salahnyakan ayah membantu?” jawab roy
“tidak juga sih, ayah yakin dia tidak akan meninggalkan kita?” tanya mala ragu
“iya mala, dia anak yang jujur dan bertanggung jawab kok” jawab roy
mala berhenti menangis, dan kembali tersenyum dan memeluk ayahnya.
ke esokan harinya, tedi berangkat ke
bandung, ketanah kelahirannya, dan membuka cabang dari resto yang di dirikan
ayah mala.
di bandung tedi tidak mau menyia-nyiakan waktunya dan terus tekun dengan prinsipnya dulu. hari demi hari, minggu demi minggu hingga bulan ke bulan, semakin ramai pengunjung resto yang di jalani tedi saat ini, dan tidak terasa waktu terus berjalan. Baru saja satu tahun resto yang di jalannyai itu sudah cukup terkenal, akan masakan-masakannya yang enak dan mewah. Sedangkan mala melanjutkan kuliahnya, dia sempat membuat cerita-cerita pendek tentang dirinya, dan mala sering sekali membuat puisi untuk tedi.
di bandung tedi tidak mau menyia-nyiakan waktunya dan terus tekun dengan prinsipnya dulu. hari demi hari, minggu demi minggu hingga bulan ke bulan, semakin ramai pengunjung resto yang di jalani tedi saat ini, dan tidak terasa waktu terus berjalan. Baru saja satu tahun resto yang di jalannyai itu sudah cukup terkenal, akan masakan-masakannya yang enak dan mewah. Sedangkan mala melanjutkan kuliahnya, dia sempat membuat cerita-cerita pendek tentang dirinya, dan mala sering sekali membuat puisi untuk tedi.
Dua tahun kemudian, mala sukses
membuat sebuah novel, dan ceritanya mengenai jalan hidupnya bersama tedi,
sekaligus mengumpulkan puisi yang sangat banyak untuk menyambut kepulangan
tedi. Di pertengahan tahun tedi berencana pulang ke yogyakarta menemui mala dan
ayahnya, waktu yang tepat tedi datang ke yogyakrta, tanpa bilang kepada mala
dan roy, sampai di resto, roy terkejut melihat tedi pulang tanpa ada kabar.
“permisi koki hebat” tedi memanggil roy
“heyy, tedi si koki keren, aku sangat merindukanmu dan masakan-masakanmu” roy memeluk tedi yang baru datang
tedi diam sejenak melihat ke arah dapur
“permisi koki hebat” tedi memanggil roy
“heyy, tedi si koki keren, aku sangat merindukanmu dan masakan-masakanmu” roy memeluk tedi yang baru datang
tedi diam sejenak melihat ke arah dapur
“mala kemana pak roy?” tanya tedi
ingin tahu
“mungkin di tempat biasa,” jawab roy
roy melanjutkan pekerjaannya di dapur, sedangkan tedi terdiam dan berpikir, dimana mala. tedi pergi ke tempat dimana mala biasa bercerita dengan hatinya, di taman bunga, tedi menemukan mala sedang merenung, dan tiba-tiba tedi menutup mata mala dari belakang
“heyyy siapa inii, ayah, atau yeni?” tanya mala tidak bisa melihat
saat di buka, mala terharu dan terkejut, apa yang dia ceritakan di taman, ternyata datang begitu saja, terasa seperti mimpi
“mas tedi, kok pulang enggak kasih kabar ke aku?” tanya mala kesal
“ini kejutan untukmu mala” jawab tedi
merekapun berpelukan, mala sangat erat memeluk tedi, lebih erat pelukannya waktu dulu mereka berdua diatas motor.
“mungkin di tempat biasa,” jawab roy
roy melanjutkan pekerjaannya di dapur, sedangkan tedi terdiam dan berpikir, dimana mala. tedi pergi ke tempat dimana mala biasa bercerita dengan hatinya, di taman bunga, tedi menemukan mala sedang merenung, dan tiba-tiba tedi menutup mata mala dari belakang
“heyyy siapa inii, ayah, atau yeni?” tanya mala tidak bisa melihat
saat di buka, mala terharu dan terkejut, apa yang dia ceritakan di taman, ternyata datang begitu saja, terasa seperti mimpi
“mas tedi, kok pulang enggak kasih kabar ke aku?” tanya mala kesal
“ini kejutan untukmu mala” jawab tedi
merekapun berpelukan, mala sangat erat memeluk tedi, lebih erat pelukannya waktu dulu mereka berdua diatas motor.
Mereka saling bertukar cerita tentang
dua tahun belakangan ini, mala bercerita kalau dia membuatkan sejuta puisi
untuk menyambut kedatangannya, dan tedi sangat terharuh, berkali-kali tedi
mengecup kening indah mala. Mala sangat terlihat sangat-sangat bahagia, dan
kebahagiaan itu tak tertahankan, karena belahan jiwanya kembali datang lagi.
Tidak lama di jogja tedi kembali ke
bandung, untuk melanjutkan restonya. mala lagi-lagi menangis ketika akan
kepergian tedi. Tidak terasa mereka berpacaran sudah lebih dari empat tahun
lamanya.
Hubungan mereka sangat harmonis, karena di
kelilingi oleh rasa saling percaya, dan rasa saling memahami.
Pada akhirnya orang tua mala dan tedi di pertemukan dan saling membahas anak mereka, pada akhirnya orang tua mereka pun menyetujui hubungan mala dan tedi. Mereka pacaran selama genap lima tahun, di tambah
jarak yang cukup jauh, membuat itu semua lebih terasa kerinduannya. Mala tak
mau menyia-nyiakan waktu itu, selama 4tahun setengah ia kuliah dan mendapat
gelar sarjana sastra indonesia, sekaligus menunggu tedi datang untuk
melamarnya.
Setelah sukses dengan novel
karangannya mala hanya bisa menunggu. Beberapa bulan menunggu untuk hasil
novelnya, dan akhirnya novel yang Mala karang di terbitkan di seluruh
indonesia, tedi sengaja membeli sampai terkesan tedi membaca cerita novel yang di buat oleh mala. Tak
lama tedi pun pulang ke jogja menemui mala, dengan membawa ayahnya, dia ingin
melamar mala. Dan tidak lama dari rencana tedi mereka berdua akhirnya bertunangan dan terlihat kebahagiaan yang
terdapat di wajah mala dan tedi, karena di selimuti rasa saling menyayangi yang
amat dalam.
Setelah bertunangan mereka ke bandung
melanjutkan usaha resto berdua di sana. tidak lama di bandung, karena mala
tidak bisa jauh dari ayahnya, mereka kembali ke yogyakarta untuk membuka cabang
baru di malioboro. sampai akhirnya mereka menikah di sana, dan memiliki tempat
tinggal sendiri. Dengan rumah yang penuh cinta dan kasih sayang. mereka hidup bahagia, karena impian tedi menjadi koki terkenal tercapai, itu semua
berkat kerja keras dan doa. sedangkan mala, menjadi orang kepercayaan di sebuah
kantor kebahasaan di yogyakarta, karena pengalamannya meneliti isi-isi novel
dan mimpi mala pun juga tercapai, itu semua awalnya dari niat mala yang sangat
kuat. di dalam keluarga yang bahagia mereka
saling melengkapi dan saling memahami saatu sama lain, hidup merekan pun
aman dan tentram, dan penuh impian yang kini tercapai.
selesaiiii JJ
selesaiiii JJ
SALAM
S_H ( sang hadi )
Keren, so sweet bngt k'. Gx kalah bgusnya dg cerpen yg 1. :)
BalasHapuscomment :
BalasHapus1.masih ada yg harus diperbaiki seperti nama orang & nama daerah awalan harus huruf besar.
2. setelah tanda (.) titik awalan harus huruf besar
3. diawal paragraf, pada kalimat ( Hari kelulusan tiba ) seharusnya "Hari kelulusan pun tiba,"
4. paragraf 1 baris akhir, kata "bertiduran" seharusnya "tiduran".
cukup itu mungkin :D
semangat ya brayyy :)
thangk braayy
BalasHapusKeren bang, semangat lagi bikin cerpennyo bang
BalasHapus