Sabtu, 12 April 2014

cerpenku yang pertama


BUNDA, JANGAN PERGI
(detik-detik kepergian bunda)
Karya: HADITRI SETIAWAN
Dulu matahari menyapaku, dan menyapa keluarga mungilku, ada ayahh dan bunda. Sekarang hanya  embun pagi yang sangat terasa , mengingat tawanya, mengingat candanya, dan mengingat manjanya yang mungkin takkan pernah hilang SELAMANYA, di dalam hatiku. DAN itu DULU.
semenajak kehilngan pada hari itu, aku sebelumnya tak mengetahui akan adanya perpisahan antara ibu dan anaknya, di mana mereka berada di alam yang kini berbeda.
Aku yakin, akan adanya tuhan, tapi sejak aku kecil, aku seakan tak tau apa-apa tentang sebuah keyakinan. Karena waktu aku kecil aku selalu berpikir.
Kadang hidup ini tak adil, kenapa harus ada yang gugur dalam kehidupan, dan kenapa harus aku yang mengalaminya. Semenjak menginjak bangku SMP, aku mengenal banyak arti keykinan terhadap tuhan, dan pada akhirnya aku Sadar, bahwa itu adalah cobaan dari yang MAHA KUASA. Aku seakan tak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya bisa meratapi hidup, dengan melihat hujan yang saat itu turun dan terus turun. aku terlahir dengan nama rini setiawan, ayahku nur setiawan dan bundaku yang bernama hilda astari. pada saat itu bundaku sakit keras, dengan penyakit yang sulit untuk di sembuhkan, aku hanya bisa menangis dan berdoa agar bunda cepat sembuhh. Beberapa kali ia masuk rumah sakit. pada hari itu penyakit bunda kambuh lagi, ayah membawa bunda ke rumah sakit yang sesuai dengan kondisi ekonomi keluarga kami. Padahal, waktu itu ayah belum dapat honor kerjanya, terpaksa ayah melelang mobilnya dan uangnya untuk merawat bunda.
 pagi setelah menjual mobil
‘’yaahh, uang dari mana mau bayar rumah sakit ini?” tanya bunda, suara serak basah
‘’sudah, jangan di pikirkan, ayah sudah mendapat uangnya kok” jawab ayah, dengan wajah tanpa beban.
  Pertanyaan itu membuat ayah merasa tak enak hati dengan bunda, karena menjual mobil kesayangan ayah waktu masih pacaran dengan bunda.
siang hari, sepulang sekolah aku pergi  kerumah sakit, menemani bunda yang sedang di rawat, setelah sampai di kamar rawat bunda, aku melihat wajah ayah yang sangat bingung.
‘’ayah kenapa?” tanyaku pelan
“ayah enggak kenapa-kenapa sayang” jawab ayah dengan senyum yang berat
“ya sudah, ayah istirahat saja, biar rini yang jaga bunda” seruku dengan ikhlas dan penuh kasih sayang
“iya, anak ayah yang cantik, yang baik, kayak bundanya” jawab ayah tersenyum menatap bunda
‘’Pasti dong’’ sahutku
Ayah pulang dengan sepeda motornya, itulah harta ayah yang tersisa.
Beberapa jam aku menemani bunda, aku merasa sedih tak karuan, menatap bunda yang meringik kesakitan di dadanya, saat itu aku belum tahu pasti apa penyakit bunda, berkali-kali bunda merasa sesak didadanya, aku semakin bingung, bingung sekali, tak tau apa yang harus aku perbuat, hanya mengenggam erat tangan bunda waktu itu, tidak lama menggenggam tangan bunda  ayah pun tiba, dengan tergesah melihat bunda yang sedang sesak nafas.
“rini, bunda kenapa?” tanya ayah dengan ketakutan
“rini enggak tau yaahh” jwabku gugup dan takut
ayah bergegas memanggil suster, dan ternyata,alat bantu oksigen yang di kenakan bunda ada yang rusak, bergegas suster mengganti alat bantu oksigen itu. Dan memanggil dokter untuk di periksa ulang, beberpa jam menunggu hasilnya, ternyata bunda mengalami kanker paru-paru, serta gagal ginjal.
tak tega mendengarnya, saat itu aku memikirkan bunda yang yang dulu yang sangat sehat, jadi seperti ini.
setelah seharian aku menemani bunda, pada pukul 9 malam,ayah menyuruhku pulang, karena besok aku akan sekolah.

pagi hari tanpa bunda di rumah, terasa sepi, hampa dan sunyi. Tak sarapan pagi, tak ada pula kecup di keningku sebelum aku pergi sekolah.
saat tiba di sekolah aku pun belajar dengan jiwa yang tidak begitu semangat, terpikir dengan keadaan bunda saat  itu.  Sedih semakin membuat aku ingat nasehat bunda waktu itu.
“rini anak bunda , bunda boleh tanya?” tanya bunda sebelum ia  jatuh sakit.
“boleh dong, bunda mau tanya apa?” tanyaku kembali
“misalnya bunda meninggal nanti......”
pembicaraan bunda tak sengaja kupotong.
“bunda ini ngomong apaan sihh, bunda janji enggak bakalan ninggalin rini berdua sama ayah kan?” tanyaku tersedak sambil menangis
“bunda janji enggak bakalan ninggalin anak kesayangan bunda, karena ada atau enggak bunda di dekat rini, bunda akan selalu di hati rini kok” semangat bunda
“dan bunda akan selalu manyayangi rini ketika bunda di surga nanti” lanjut bunda
Suasana pun semakin sedih dan tangis tak tertahankan, air mata pun berjatuhan, sebagian air mataku membasahi baju bunda saat itu.

menurutku dan menurut perasaanku, tiada belaian yang paling lembut, dan hanya belaiannya yang sangat lembut dengan diiringi pelukannya yang begitu hangat.
memang tak terasa saat dulu aku kecil, saat dimana aku di timang, tapi aku bisa membayangkan, betapa nyamannya di atas gendongan seorang bunda.
Dua hari bunda di rawat di rumah sakit, pikiranku masih terbayang-terbayang bunda, sampai aku pun di tegur guru fisikaku
“rini setiawannn!!” dengan nada marah
“iya, saya bu, ada apa bu?” tanyaku tak tau apa-apa
“kenapa kamu tidak memperhatikan saya menerangkan?” tanya bu guru masih marah
“saya lagi kurang enk badan, bu” jawabku dengan  lesuu
aku pun di bawa ke ruang UKS sekolah, ternyata aku hanya sakit demam biasa.
Tak lama ayah membawaku pulang kerumah. Ayah menaruhku di atas kasur.
“yaaah” panggil ku kepada ayah
“kenapa sayang?” tanya ayah dengan senyum
“jangan bilang bunda yaa kalau rini sakit, bsok juga sembuhh kok, oke yaahh” seruku
“oke tuan putri kecilku” jawab ayahku dengan nada menuruti permintaanku

Aku tak mau menambah beban pikiran bunda, dengan mendengar aku sakit.
beberapa jam aku trmenung akhirnya aku tertidur. ketika tidur aku bermimpi, mimpi itu sangat bahagia, tapi aku tidak tau apa arti mimpi itu.
 Di dalam mimpiku bunda sangat senang karena bisa mengendarai sepeda motor milik ayah, dan bunda meminta izin untuk pergi kepasar dengan ayah, aku pun menangis untuk ikut bunda ke pasar, tapi di larang oleh ayah.
pada saat itu aku tak tau apa maksud mimpi itu, aku tak ingin cerita dengan ayah, karena ayah terlihat lelah dan lesu.
Aku selalu memikirkan bunda sejak pagi ketiga bunda tak terlihat di rumah, sangat sepii.
Ayah pulang ke rumah untuk mengantar aku ke sekolah.
“kok anak ayah enggak semangat gitu sih?”tanya ayah dengan lembut
“rini semangat kok yah, rini pengen ketemu bunda yaahh” mintaku
‘’iya nanti sepulang sekolah ayah jemput, ayah antar rini ke rumah sakit, oke sayang”ajakan ayah dengan semangat
“baiklah ayah” jawabku semangat
Sesampai di sekolah, aku bertemu dengan anny, yang bisa di bilang, orang yang paling membenciku di kelas, bahkan di sekolah
“heyy rini!! kasihan sekali anak ayahh, di antar pakai motor butut”anny dengan sombong menegurku
“tak apa, dari pada berjalan kaki” jawabku tersenyum
“huh, dasar orang miskin, sok baik” anny dengan sinis
“jaga mulutmu anak orang kaya”jawabku kasar
“orang miskin maraaahh” anny tertawa mengejekku
Biarpun aku selalu sabar, tapi aku punya batas kesabaran, aku menampar pipi anny dengan keras, anny membalas tamparanku dengan jambakan rambut andalannya. Tak lama bertengkar, satpam sekolah memisahkan kami berdua
“heyy kalian, sudahh jangan bertengkar, kalian ini kan anak sekolah, enggak bagus kalau bermusuhan” omelan pak satpam kepada kami berdua
“saya tidak mau mancari musuh pak” jawabku dengan keras
“ya sudah, masuk lagi, bel sudah bunyi” seru pak satpam kepada kami

aku pun masuk ke kelas dan belajar dengan semangat, karena akan bertemu bunda sepulang sekolah.
bel sekolah pun bunyi menunjukan jam pulang sekolah.
Sepulang sekolah aku menunggu ayah di depan gerbang. 15menit aku menunggu ayah menelponku.
“sayang, ayah hari ini enggak bisa jemput rini, bunda sendirian nanti” suara ayah terdengar dari telpon
“yaudah, rini naik ojek aja yaahh, enggak apa-apa kok” jawabku dengan senyum semangat
“hati-hati ya anak ayahh” saran ayah di telpon
“iya ayaah” jawabku dengan tegar

aku pun berjalan mencari tukang ojek, pada saat mencari ojek, anny teman sekelas yang tak pernah senang denganku mengejekku.
“hey anak pungut, kenapa jalan kaki?” tanya anny dengan sombong
“ayah lagi jaga bunda di rumah sakit, jadi enggak bisa jemput aku” jawabku dengan hati sabar
“kasihan yaah hidup kamu rini, punya orang tua, tapi penyakitan hahahaha”anny dengan nada mengejek di dalam mobil mewah
“......” aku diam merunduk
di situ aku merasa terpukul, merasa marah, merasa murka, ketika bunda di ejek-ejek seperti itu.
akupun melempar mobil mewah anny dengan batu besar, setelah mengenai sasaran akupun lari kencang dengan rasa takut.
kelelahan dan saat itu hujan deras serta ada angin yang seakan memanggilku untuk cepat cepat pulang dan menemui bunda.
saat itu di bawah pohon besar aku berteduh dari hujan yang sangat lebat, aku terpikirkan  bunda terus menerus, terpaksa aku berlari melawan hujan yang deras, berlari dengan air mata yang berjatuhan terbawa air hujan, menuju rumah sakit dimana bunda di rawat, setengah jam aku berlari, di pikiranku hanya ada bunda,bunda,dan bunda.
sesampai di rumah sakit aku pun menggigil kedinginan, sangaaaattt dingin.
pada hari itulahhh.............
Di hari yang dingin, hari yang sangat memukul jiwa, hati, dan perasaanku. Diteras rumah sakit, perasaan aku mulai tak menentu, di campur rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang, aku perlahan masuk rumah sakit, tiba-tiba ayah memanggilku, dan mengatkan,
“sayang, bunda udah enggak ada” sambil memelukku menanggis
“bunnnndaaaaa,,,,,,,” memejamkan mata dan menangis
saat itu aku sangat terpukul sekali, dan pikiranku melayang, membayangkan belahan jiwaku hilang, aku hanya terpaku dan menanggis melihat bunda terbaring kaku di atas keranjang jenazah, ia meninggal dunia pukul 14.15 siang, saat itu sedang hujan deras.   Jenazah bunda langsung di bawa kerumah, terakhir kalinya aku mencium kening indah yang di milikinya, sekali lagi aku menangis mengingat janjiku dengannya, jika besar nanti aku akan membahagiakan bunda dan ayah, tapi nyatanya tuhan berkehendak lain dan jenazah bunda di semayamkan di pemakaman dekat rumahku. Rasa kehilngan sangat aku rasakan, sangaatt dalam.
bahkan di dalam hatiku berkata bunda bohong sama rini, bunda bilang enggak bakalan ninggalin rini.

Dengan rasa tidak ikhlas, di tinggal pergi selama-lamanya oleh seorang ibu, aku seakan kehilangan sebagian jiwaku, kehilangan harta terbesarku, kehilngan akan manjanya, akan pujiannya, akan nasehatnya, dan kehilngan kasih sayangnya sebagai seorang ibu, yang dulu selalu mengangkat tubuh ini, yang selalu menyemangatiku di kala aku merasa sedih.
setelah kepergian bunda, rumahku istanaku, sudah tak lagi berlaku untukku, karena bunda sudah tiada, sunyi , sepi aku pun hanya merenung dan mengis.
ayah mensehatiku,
“anak ayaah kok nangis terus?” tanya ayah serak
“rini enggak nangis kok ayah, rini Cuma sedih aja, bunda ninggalin rini.” Jawabku sedih
“bunda nanti sedih loohh, kalau liat anak kesayangnny sedih, bunda itu Cuma pergi sebentar, bunda akan selalu ada di hati rini truss.....”
kata-kata ayah tadi mengingatkanku akan percakapanku dengan bunda waktu itu.
“jadi, sekarang rini kirim doa untuk bunda, supaya bunda tetep bahagia di surga, oke sayang” nasehat ayah
“baiklah ayah, rini akan selalu berdoa untuk bunda, di dalam solat rini, maupun di setiap malam yang penuh sama bintang” jawab ku seakan tegar
“baguuuussss, itu baru anak ayaah sma bunda” ayah mengusap kepalaku.

Aku berfikir sejenak dan aku pun tauu , , , , , bahwaaa . . . . .
Mungkin ini arti dari mimpiku waktu itu. . . . . . . . . . . . . . . .

Mengingat mimpi itu aku pun rindu dengan bunda.

“ayah, rini kangen bunda, kita ke makam bunda yuukk” ajakku seakan tak ada kesedihan
“ayoo sayang, bunda pasti seneng, kalau rini datang kesana, tapi jangan lupa doa untuk  bunda yaa sayang.” Ajak ayah kembali
“iya ayahh, rini selalu berdoa kok untuk bunda” jawabku dengan senyum
hari ke tujuh bunda meninggal, aku mulai rutin hadir di atas makam bunda setiap minggunya, dengan sepotong ayat suci AL-QUR’AN, untuk mendoakan bunda agar tetap tenang dan bahagia di sisiNYA, disisi YANG MAHA KUASA.   

Pada malam hari aku melihat satu bintang yang begitu terang, aku membayangkan itu bunda yang tersenyum kepadaku, dalam hati aku berkata
“BUNDAA, AKU AKAN SELALU MENGINGAT JANJIMU, YAITU  AKAN SELALU ADA, SELALU ADA DI DALAM HATIKU DAN DI DALAM BENAKKU. “

DULU DAN SEKARANG BERBEDA, SANGAT JAUH BERBEDA, DULU YANG SELALU PENUH DENGAN KASIH SAYANG, SEKARANG HANYA TINGGAL KENANGAN.

I LOVE YOU MOM :*

SELESAIIIIIII JJJJ
                                                                                       



                                                                                           SALAM,,,,,, S_H (Sang Hadi)

4 komentar: