Senin, 21 April 2014

cinta dan impian ( cerpen kedua )

Cinta dan impian
karya
HADITRI SETIAWAN

 

 

Hari kelulusan pun telah tiba, dimana hari itu seluruh siswa akan mendapat hasil ujian nasional, dan bersyukur ia mendapatkan hasil yang bagus, yaitu LULUS. Tedi mulai berpikir ini adalah awal hidupnya, dimana dia harus memulainya sendirian, tanpa bantuan orang tua lagi, dan hanya membutuhkan doa orang tua serta ridho dari sang pencipta. Dan itulah dia, seorang lelaki berambut keriting , berkulit sawo matang, pintar, apa soal masak memasak, ia lulusan dari SMK purnama BANDUNG jurusan tata boga. Nama lengkapnya Tedi subarjo, ia bukan pria yang mudah menyerah, tekun, berani, nekat banget, serta memiliki impian yang tinggi, dia ingin menjadi koki hebat di indonesia, dan mempunyai restoran sendiri.

Sejak di SMK ia pernah menjuarai lomba memasak tingkat provinsi jawa barat, mungkin sekarang semua sudah menjadi sejarah saja, namun itu suatu kebanggan bagi dirinya dan sekolahnya waktu itu. 


Malam hari setelah merayakan  kelulusannya, tedi belum menemukan jalan selanjutnya, "mau kerja dimana ???"bingung dan pasrah, itu yang terlihat di wajah tedi, bahkan ia sampai tertidur dan terbangun tengah malam.

 Pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kota YOGYAKARTA untuk mencari pengalaman kerja yang lebih baik dan berkembang. Dengan uang tabungannya ia akan berangkat, dengan uang itu pula dia bertekat untuk makan sehari dua hari, sambil mencari pekerjaan. Sebelum berangkat tedi tidak lupa meminta doa restu dari ayahnya serta ibu tirinya, yaa meskipun ibu tiri, dia tetap menganggapnya  sebagai ibu kandung, karena dia sudah di tinggal ibu kandungnya saat ia berusia 10  tahun, sampai saat ini ia belum merasakan penuh kasih sayang seorang ibu kandung, cukup miris hidup yang dialami tedi.  Hari pengambilan ijazah pun tiba, sembari berkemas dan mematangkan niatnya untuk pergi merantau. Esok harinya tedi berangkat dari kota bandung menggunakan kereta api  Di Stasiun Kiaracondong jurusan stasiun balapan solo. Perjalanannya tidak memakan banyak waktu, dan tedi pun terlihat nyaman di perjalananya sambil memikirkan akan tinggal dimana dia nantinya, pikiran itu terus terbayang.  Ada satu hal yang tedi tidak ketahui tentang ayahnya yang mempunyai adik perempuan di jogja, ayahnya meminta tolong pada bude sum untuk memantau tedi selama di jogja, dan menjemput tedi di stasiun balapan solo. Tedi bermalam di dalam kereta api dengan suasana yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Esok harinya tedi telah tiba di stasiun balapan solo. Ternyata bude sum bermalam di rumah temannya di kota solo sengaja untuk menjemput tedi keponakannya pagi-pagi, karena ia tau ada kereta dari bandung pagi ini. Kereta pun telah berhenti dan perjalanan tedi baru dimulai, ia terlihat kebingungan harus kemana, namun ia mengikuti bapak tua menuju pintu keluar dimana bapak itu menghampiri seseorang yang menjemputnya, pada saat menengok kiri kanan tedi pun mendengar ada yang menyebut namanya, itu adalah bude sum yang bertanya pada penumpang lain yang turun serentak dengan tedi, ia mendekat ke ibu-ibu yang menyebut namanya tadi, dan bertanya. "Ibu lagi nunggu anaknya yaa? Kok namanya sama dengan saya " tertawa kecil bude sum menjawabnya dengan pertanyaan "ini 

nak tedi ya, anaknya mas hadi suparjo dari bandung?". Bude sum menanyakan kepada orang yang tepat. "Iya benar bu, saya anak pak hadi suparjo, kok ibu kenal ayahku?" Tanya tedi k

embali

“saya budemu nak, adik dari ayahmu, saya dari jogja untuk menjemputmu” jawab bude sum “ayahku tak pernah bercerita kalau dia punya adik di jogja” tedi dengan terkejut
“itulah ayahmu, dia selau ingin terlihat mandiri di depan orang lain, bahkan anaknya sendiri” jawab bude sum sambil tertawa tersenyum
“baiklah, berarti anda itu bude saya?” tanyanya sambil masuk mobil bude sum
“iya tedi, saya budemu” jawab sambil membawa mobil
perjalanan cukup lama untuk sampai di rumah bude sum, tedi tertidur pulas, dan ditengah perjalanan dia terbangun melihat sekeliling kota D.I.Y( Daerah Istimewah Yogyakarta). Sambil melihat sekeliling kota, dia memikirkan suatu prinsip yang lama dia tekuni.
 jika waktu tak di jalani dan tak di manfaatkan, maka hiduppun akan sia-sia, tak ada hasil dan tak ada makna, sedikitpun.

Pagi yang cerah di malioboro. Pagi hari di pinggir jalan malioboro, terlihat restoran yang cukup besar dan sederhana, restoran itu bernama resto santi. Di restoran itu tinggalah seorang koki handal, dia mengelolah restoran itu bersama anak dan beberapa karyawannya, baru satu tahun resto itu berdiri dan pemilik restoran itu bernama roy, dia memiliki anak perempuan yang selalu membantunya di resto, dia bernama Mala santika. Nama resto yang roy dirikan di ambil dari nama almarhum istrinya, yang meninggal sebelum resto itu di bangun. Anaknya yang bernama mala ialah wanita yang baik, berambut panjang dengan warna hitam, mala juga wanita yang judes, jutek, namun ia terlihat manis ketika sedang menebar senyuman. Mala tahun ini baru lulus SMA, jurusan bahasa dan sastra di salah satu sekolah negeri di kota jogja, ia memang memiliki bakat menulis sebuah puisi dan membuat cerita-cerita pendek, mala ingin sekali menciptakan sebuah novel yang dia impi-impikan sejak duduk di bangku SMA.
Sebenarnya mala berniat kuliah, tetapi ia melihat kondisi ayahnya yang tidak memungkinkan untuk membiayainya sampai bangku kuliah, tidak pantang menyerah ia berusaha  menjadi pelayan di resto ayanya,untuk mendapat imbalan dari ayahnya, ia mengumpulkan uang yang di berikan ayahnya untuk biaya kuliah, uang itu di berikan kepada mala semata-mata itu adalah gaji selama dia membantu ayahnya.
“tidak ada usaha, maka tidak ada uang jajan” ancam roy kepada mala.    
“baiklah, mala akan membantu ayah jadi pelayan resto ini, bagaimana?” penawaran mala dengan ayahnya
“ayah terima” jawab dengan senyum
 Mala akhirnya resmi menjadi pelayan di resto ayahnya, walaupun dengan gaji yang tidak seberapa mala tetap senang.  Mala sebenarnya memiliki niat untuk membantu ayahnya menjadi koki, tetapi ayahnya melarang mala untuk bekerja di dapur, takut berantakin dapur. Karena mala tidak bisa masak, maka dari itu  ayahnya melarang mala untuk bekerja di dapur. Tak tega melihat ayahnya bekerja sendiri di dapur, mala berinisiatif membuka lowongan pekerjaan, dengan syarat harus laki-laki dan tampan. Sebelumnya mala sudah mengatakan kepada ayahnya, bahwa mala akan mencari koki handal untuk menemani roy di dapur. Karena itu saran dari putri kesayangannya, roy pun menyetujuinya.
Seharian mala menjadi pelayan di resto ayahnya. Waktu terus berjalan, wanita manis itu merasa sangat lelah karena ini hari pertama dia merasakan menjadi pelayan, malam ini mala tidak tidur dirumah, mala tidur di resto ayahnya, karena sudah cukup larut malam, jadi ayahnya melarang mala pulang ke rumah  yang jaraknya cukup jauh dari malioboro, rumahnya sangat dekat dengan taman sari yogyakarta, taman itu adalah tempat dimana mala melepas rindu dengan ibunya. Hari pun makin malam, Karena terlalu lelah, mala tertidur pulas, walaupun dia belum mandi.
Malam semakin larut, di malam yang larut, di kamarnya tedi belum bisa tidur, karena dia masih bingung akan nasibnya di kota yang istimewah ini. Menghilangkan rasa  bosan, sekaligus menambah wawasan, Tedi membaca buku tentang masakan yang menjadi favorit orang-orang jawa, tentunya di kota yang istimewah ini. Tak lama Tedi pun keluar kamar
“ted, kok belum tidur?” tanya bude
“belum ngantuk bude, sedang buat apa bude?” tanya tedi kembali
“bude sedang membuat kue ulang tahun pesanan orang ted, kenapa?” jawab bude dan kembali bertanya dengan senyum
“enggak kenapa-kenapa, mau aku bantuin bude?” tawaran tedi seakan dia hebat membuat kue
“memang kamu bisa ted?” tanya bude tak yakin
“heemmm, bude kok meragukan tedi sih, tedi ini calon koki terkenal lohh” jawabnya sambil tertawa

Keasyikan membuat kue bersama budenya, tedi tak ingat lagi akan kebingungannya dengan nasibnya di kota ini. Jam menunjukan jam 23.30 WIB. Tedi masuk kamar dan dia tertidur karena sedikit kelelahan membantu bude membuat kue ulang tahun.

pagi hari di rumah yang sederhana, tedi terbangun, dan langsung mandi. Setelah mandi ia ikut sarapan bersama bude dan sepupunya neti,
“tedi, bude boleh tanya nak?” tanya bude sambil mengambil nasi
“boleh bude, mau tanya apa?” jawab tedi tersenyum
“kamu mau kerja dimana?” tanya bude
tedi termenung, dan diam sejenak,
“belum tau bude, rencananya aku mau bekerja di restoran kecil saja, sebagai koki” jawab tedi masih bingung
“emmm, bagus kalau begitu” jawab bude
“ibuu, ayo antar aku ke sekolah” potong neti
“berangkat sama mas tedi saja ya nak, ibu lagi sibuk ngurus kue nih” jawab bude sambil merapihkan kue ulang tahun.
“hemm ya sudah, ayo mas, anterin neti” seru neti kesal
“iya neti, mas manasin motor dulu” jawab tedi sambil ke kamar
beberapa menit memanaskan motor, dan di perjalanan mengantar neti ke sekolah, tedi melihat kekiri kekanan, untuk memastikan ada restoran yang membuka lowongan pekerjaan. Di sepanjang jalan ia tidak menemukan satupun restoran yang membuka lowongan kerja.
Sepulang dari mengantar neti ke sekolah, tedi sengaja berkeliling di sekitar pasar maliboro. Tiba-tiba tepat di depan resto santi milik mala, ia melihat ibu-ibu terbaring dan ternyata ibu itu korban tabrak lari, dengan cepat dia menolong karena suasana di jalan masih sedikit lengang, saat itu mala ingin pergi sebentar ke taman sari, seperti biasa, setiap pagi ia datang ke taman sari untuk bercerita dengan ibunya, setiap ada masalah pasti selalu di ungkapkan di taman yang indah itu. Saat mala keluar dari resto, dia melihat tedi sedang menolong ibu yang menjadi korban tabrak lari tadi.
“heeeeyy, ada apa ini, kamu tabrak ibu ini yaa?” tuduhan mala terhadap pria berambut kriting bekulit sawo matang
“jangan sembarang tuduh kamu” bantah tedi dengan nada kesal
“ya sudah, ayo kita bawa ke rumah sakit dekat sini” seru mala dengan tergesah gesah
tedi dan mala belum kenal satu sama lain, mereka membawa ibu tadi  kerumah sakit terdekat. Tak lama setelah dirumah sakit, mala pergi meninggalkan tedi sendirian
“kamu mau kemana?” tanya tedi
“aku mau pergi, ada urusan” jawab mala ketus
“bagaimana nasib ibu tadi?” tanya tedi dengan wajah bingung
“kan kamu yang nabrak, jadi kamu yang harus tanggung jawab semuanya” tuduh mala, dan langsung pergi tak perduli
“sudah kubilang bukan aku yang menabraknya” jawab tedi dengan nada tinggi
orang-orang di sekitar tedi memandanginya dengan sinis, karena tedi berteriak di rumah sakit, salah satu pasien menunjuk tulisan “JANGAN BERISIK” di dinding rumah sakit.
Setelah urusan di rumah sakit selesai tedi pulang dengan wajah lesu, tedi bebicara dalam hati, “ini hari sialku atau apa ya, bertemu dengan wanita cantik tapi tak bertanggung jawab”
di perjalanan melanjutkan mencari pekerjaan, selama perjalanan dia tak mau lewat depan resto santi milik mala, dia takut sial lagi. Lama berjalan pelan dengan sepeda motor, tedi berhenti sejenak, dan beristirahat di sebuah taman, yang bernama taman sari, di mana taman itu tempat mala biasa mengenang ibunya dan bercerita dengan hati. Berjalan kaki mengelilingi taman sari, tak sengaja tedi melihat wanita yang tadi pagi pergi begitu saja, saat sehabis membawa korban tabrak lari kerumah sakit. Tedi menghampiri mala yang sedang tertunduk di atas bangku taman.
“kamu cewek yang tadi di rumah sakit itukan?” tanya tedi
mala tak menjawab
“ehh tuli, jawab aku” seru tedi agar mala menjawab
mala mendangakkan wajahnya yang sudah penuh air mata, dan dia lari meninggalkan tedi sendirian lagi.
“cewek aneh” tedi bicara sendiri.
Mala pun pergi ke resto untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Saat ingin memulai bekerja mala masih tersedak karena habis menangis
“kenapa mala, habis nangis ya?” tanya roy kepada mala yang sedang mencuci piring.
“enggak kok yah” jawab mala dengan suara pelan
“coba liat ayah sebentar” seru roy
setelah mala bebalik badan, roy melihat mata mala yang penuh dengan kerinduan dengan seseorang yang amat dia sayangi
“ayah tau kenapa, pasti kangen ibu kan?” tanya roy mengelus kepala mala
“iya yah, mala kangen sama ibu”  jawab mala semakin sedih dan memeluk roy erat
“ya sudah, jangan sedih terus, nanti ibu juga sedih liat mala nangis begini, yang penting mala selalu berdoa untuk ibu” seru roy, menyemangati mala
mala terdiam
“sekarang  kita kerja lagi, oh iya, belum ada ya, yang mau melamar di resto kita ini?” tanya roy tentang pekerjaan koki di restonya
“belum ada yah” jawab mala sambil membersihkan meja
hari mulai siang, dan pelanggan berdatangan silir berganti.
Tidak lama datang seorang pria dan duduk di meja nomer 3, dia memanggil mala
“pelayan” teriak pria tampan itu
“iya sebentar” jawab mala
“mau pesan . . . . “ terhenti ketika mala melihat bahwa yang memanggilnya dengan sebutan ‘pelayan’ itu adalah jimmi, kakak kelasnya dulu sewaktu SMA, mala sangat mengagumi jimmi, dan selalu mati kutu ketika jimmi menegur mala sewaktu di sekolah dulu
“mas jimmi, kan?” mala gugup
“iyaa saya jimmi, oohh iya, kamu mala adik kelas saya dulu waktu SMA, benerkan?” tanya ragu
“iya maas” jawab mala gugup
“kamu bekerja di sini mala?” tanya jimmi sambil melihat menu
“iya mas, ini resto milik ayahku” jawab mala
“oohh, jadi resto ini milik ayahmu” jawab jimmi
“mau pesan apa mas?” tanya mala
“saya mau pesan masakan yang spesial di resto ayahmu ini” jawab jimmi dengan senyum
wajah mala memerah karena jimmi tersenyum kepadanya.

“kenapa anak ayah kok kayaknya seneng banget?” tanya roy sambil masak
“enggak kok yah, biasa saja” jawab mala malu-malu
tiba-tiba yeni sepupu mala memotong
“habis kenalan sama cowok idaman tuh lek” yeni tertawa
“sembarangan aja kamu yen” bantah mala kesal
“ya sudah ayo kerja lagi sana” seru roy kepada mala dan yeni

Setelah selesai makan jimmi memanggil pelayan, namun bukan mala yang datang, karena mala sedang di kamar mandi, yeni yang menghampiri jimmi
“iya mas, ada yang bisa di bantu?” tanya yeni
“bisa pesan satu lagi yang saya makan tadi mbak, tapi di bungkus saja ya” jimmi memesan
“ada lagi mas” jawab yeni sambil menulis pesanan
jimmi terdiam memandangi yeni, dia teringat akan mantan kekasihnya yang dulu pergi meninggalkan dia sendiri di dunia.
“mass” tegur yenii
“oohh,, enggak mbk, itu saja” jawab jimmi terkejut
“di tunggu ya mas” seru yeni
“eeh, mbak tunggu sebentar, boleh tau siapa namanya?”tanya jimmi dengan senyum
“nama saya yeni, ada apa mas?” tanya yeni yang bingung
“perkenalkan nama saya jimmi, saya bekerja di kantor dekat sini, boleh saya minta nomer telpon kamu?” tanya jimmi tanp malu-malu
“untuk apa mas?” tanya yeni kembali
“untuk berkomunikasi, dan menggalih pertemanan, bolehkan?” tanya jimmi dengan senyum
“baiklah tapi jangan di sebar luaskan ke siapa-siapa ya!” seru yeni, sambil menulis nomer telponnya
Jimmi terlihat sedang kasmaran, melihat yeni yang mungkin sangat menawan di matanya, atau karena dia mirip dengan mantannya

Mala dan yeni kembali bekerja.
Malam pun datang, dan waktunya tutup.
“ayah, mala pulang saja ke rumah, mala pulang bareng yeni” teriak mala dari luar resto
setelah sampai di rumah, tepatnya di kamar mala, di membuka buku diary lamanya waktu SMA dulu, dia menulis semua tentang isi hatinya tadi siang di resto, sampai akhirnya mala tertidur, kali ini dia sudah mandi.
yeni sepupu mala, menerima pesan di telepon genggamnya, dan ternyata itu dari jimmi, tetapi tak di respon oleh yeni.
sedangkan jimmi menunggu balasan dari yeni, sambil mengerjakan tugas dari kantornya.
Tiba-tiba telpon genggam yeni bergetar, ternyata jimmi menelpon yeni.
“halo” yeni mengangkat telponya
“yeni, sedang apa?” terdengar dari telpon genggam yeni
“baru mau tidur” jawab yeni ketus
“ohh, mau tidur ya” jawab jimmi
“iya” jawab yeni ketus lagi
“ya sudah tidur sana” seru jimmi sambil tertawa kecil.
Tanpa salam yeni memutuskan telpon, jimmi terheran-heran dengan tingkah yeni, dia melanjutkan pekerjaannya.
Malam sudah larut di rumah bude sum, tedi masih menyaksikan film favoritnya, sampai-sampai dia tertidur di ruang keluarga.

Pagi harinya dia di bangunkan oleh bude sum, setelah bangun, tedi di sodorkan pertanyaan dari bude sum
“kamu enggak cari kerja ted?” tanya bude
“iya bude, nanti siang saja, masih ngantuk” jawab tedi sambil berjalan ke kamar
“ya sudah, awas kalau nanti siang gak cari kerja, bude usir kamu dari rumah” candaan bude sum
“baiklah bude” jawab tedi
tedi melanjutkan tidurnya, sedangkan bude sum mangantar neti ke sekolah.

Pagi hari di resto santi, mala berharap pria idamannya itu datang lagi hari ini, sedangkan yeni merapihkan meja makan pelanggan.
Siang hari waktunya kerja keras melayani para pelanggan, mala melayani pelanggannya seperti biasa, dengan sopan dan ramah, di sertai manis senyumnya yang mempesona.
Tiba-tiba roy merintah mala untuk membuang sampah yang sudah menumpuk dari kemarin, membuang sampah hal yang paling mala tidak suka, karena bauknya yang menyengat.

Mari mulai siang, tedi mulai berkeliling mencari lowongan pekerjaan di sepanjang jalan malioboro, di perjalanan tedi melihat seorang wanita bekerja di sebuah restoran, awalnya tedi tak mau menghampirinya, tetapi tedi tak tega melihat wanita itu keberatan saat ingin membuang sampah yang sangat banyak dari dalam restoran. Pelan perlahan tedi menghampirinya dan turun dari sepeda motor.
“perlu bantuan?” tawaran tedi dengan lembut.
“tidak...” jawab mala ketus.
“sepertinya kamu butuh bantuanku” tawaran memaksa.
“siapa sih kamu, kenal juga enggak, pergi sana!” tanggapan mala dengan emosi.
“perkenalkan nama saya . . . . “ tedi terhenti
“kamu lagi, wanita tak punya rasa tanggung jawab” seru tedi tegas
“siapa yang tak punya tanggung jawab, aku kemarin memang sedang ada urusan di taman sari” jawab malah dengan keras
“tak ada urusan menangis di taman sendirian, wanita aneh” ejek tedi.
“kamu yang aneh, kenal juga enggak, main tegur-tegur saja, sok kenal” seru sambil menggibas rambut.
“eehh, siapa nama kamu?” tanya tedi seakan ingin tahu
“namaku mala” jawab mala seakan tak peduli
“namaku tedi” sahut tedi
mala membalikkan badan
“aku tidak tanya siapa nama kamu” jawab mala ketus
“setidaknya saya memberi tau kamu” jawab tedi lembut
ketika  mala ingin masuk tedi memanggilnya lagi
“malaa, apa benar di restoran tempat kamu kerja membutuhkan karyawan?” tanya tedi membutuhkan
“iya, tapi yang bisa masak saja” jawab mala ketus.
“aku bisa masak, aku lulusan tata boga di bandung, boleh aku bertemu dengan yang punya resto?” tanya tedi.
“aku yang punya resto ini, dan ayahku yang mengelolahnya” jawab mala
“ahh, serius,  tidak ada tampang pemimpin di keningmu” ejek tedi tersenyum
“ya sudah, kalau tidak percaya” jawab mala dengan wajah kesal
“baik-baik, aku percaya, bisa aku bertemu ayahmu?” tanya tedi
“ masuk saja ke dalam dan bicaralah yang sopan dengan ayahku” seru mala.    
Tedi masuk dan menemui roy  untuk interview, saat itu resto sedang sepi, tedi menjelaskan kepada roy, bahwa dia memiliki banyak pengetahuan tentang masak memasak, walaupun tak sehebat roy. Mala memandangi tedi yang sangat mahir dalam berbicara tentang masakan, mala sedikit terkesan dengan tedi, walaupun mala menganggap tedi menyebalkan.
“hayoo, ngapain ngintip-ngintip” yeni mengejutkan mala
“apaan sih, ngagetin aja, siapa juga yang ngintip, Cuma enggak sengaja liat keluar” jawab mala mengelak
“bagus dehh, ya sudah cuci piring lagi sana, gantian” seru yeni
beberapa menit tedi ngobrol dengan roy, akhirnya roy tertarik dengan apa yang di sampaikan tedi.
“baiklah nak tedi, besok sudah bisa mulai masak yaa” seru roy
“terima kasih pak roy” jawab tedi dengan wajah gembira.
Tedi pulang dengan membawa kabar gembira untuk bude sum, sedangkan mala masih merengut karena jimmi pria idamannya itu tak berkunjung ke resto hari ini.
Yeni senyum-senyum sendiri setelah melihat SMS dari jimmi, dia sepertinya mulai menyukai jimmi, dan yeni tidak tau, bahwa jimmi adalah pria yang di kagumi oleh sepupunya itu.
Yeni di janjikan malam minggu ini untuk pergi nonton bioskop bersama jimmi.
“seneng banget yeen?” tanya mala dengan senyum manisnya
“iya dong, ada cowok yang mengajakku nonton bioskop malam ini” jawab yeni dengan wajah memerah
“hemm, pantas saja, dari tadi senyum-senyum sendiri”
malam yang di tunggu oleh yeni tiba, jimmi menjemput yeni di rumahnya, sudah siap dan mereka berdua berangkat.
Yeni yang sedang kasmara, sebaliknya mala yang merana meratapi malam minggunya dengan hati yang kosong. Setelah selesai nonton jimmi dan yeni makan malam di pinggir jalan dengan romantis.
Saat makan berdua, jimmi menyatakan sebuah perasaannya kepada yeni, memang singkat, tapi sangat terasa, baru beberapa hari bertemu, tetapi terasa sudah lama.  Yeni pun kelihatan bingung, dengan melontarkan beberapa petanyan kepadaya, jimmi dengan lancar menjawab pertanyaannya, sehingga yeni menerima pertanyaan dari jimmi, dan malam itu mereka menjadi sepasang kekasih.
Mala merasa suntuk dirumah, sengaja malam itu dia berkeliling menikmati malam minggu di kota yogyakarta yang sangat ramai, menggunakan sepeda ontel milik ayahnya. Saat berjalan mala melihat jimmi sedang menggandeng seorang wanita, dia bergegas mendekati jimmi, karena terburu-buru mala menabrak seorang pria, dan pria itu adalah tedi.
“aduuh, pelan-pelan dong mbak naik sepedanya” seru tedi kesakitan memegang kaki.
“maaf mas . . . . “
“tedi, ya ampun maaf tedi, aku enggak sengaja, aku harus cepat-cepat pergi, ada urusan penting” jawab mala dengan terburu-buru
“sepenting apa coba, lebih penting bertanggung jawab tau” seru tedi kesal
mala lagi-lagi meninggalkan tedi dengan kesan tidak bertanggung jawab.
Mala terus mencari jimmi, dan berpapasan tepat di depan wajah yeni, terkejut yang dia lihat bersama yeni itu adalah jimmi, pria idamannya sejak dulu SMA, wajah mala terlihat kaku dan bingung.
“mala, sedang apa kamu di sini?” tanya yeni
mala hanya diam
“mas, ini sepupuku namanya mala” yeni perkenalkan mala kepada jimmi
“iya sayang, aku sudah kenal kok” jawab jimmi dengan senyum
“ya kan mala?” tanya jimmi
“hey mala, kenapa bengong?” tanya yeni
“eh,eh, enggak kenapa-kenapa kok yen, mas” jawab mala dengan senyum yang menyelimuti kesakitan hatinya.
Mala pun pergi dari hadapan mereka berdua, bersepeda dengan kencang, dan tak sengaja tedi melihat mala ngebut menggunakan sepeda ontel. Tedi berinisiatif untuk melihat-lihat ke taman sari malam itu, karena dia berpikiran mala akan kesana, dan ternyata benar, tedi melihat mala menangis sendirian di atas bangku taman.
Tedi duduk di samping mala yang sedang menangis.
“hey, cengeng banget, kok nangis” ejek tedi pelan
mala tak menjawab
“kenapa, kok nangis lagi, cerita sama aku” seru tedi dengan lembut dan duduk di sebelah mala.
“sakit banget hati aku” jawab mala sesak menangis
“kenapa?” tanya tedi ingin tahu
“aku suka sama cowok dari waktu SMA dulu, dan sekarang cowok itu malah pacaran sama sepupu aku sendiri, padahal aku berharap dia menanggapi rasa yang aku miliki sama dia, ternyata enggak,  cinta aku bertepuk sebelah tangan.” Jelas mala sambil menangis
“dari mana kamu tahu mereka pacaran” tanya tedi
“tadi waktu di malioboro” jawab mala
“ya sudah jangan di rasakan banget, semua rasa kamu sama dia bisa berubah, jika kamu menyukai orang lain, percaya deh sama aku” saran tedi.
“heemm, akan aku coba, walaupun sepertinya agak sulit” jawab mala sedih
“waktu yang akan menjawab” potong tedi dengan penuh wibawa
“terima kasih ya ted, untuk sarannya, oh iya besok jangan lupa datang pagi-pagi ke restonya, bantu aku beres-beres resto” seru mala
“oke bos” jawab tedi dengan senyum
tedi pergi membeli tisu dan es krim untuk mala, meraka mulai bercerita dan bercanda, dengan niat tedi yang ingin menghibur saja, tedipun merasa jatuh di tumpukan bunga-bunga ketika melihat senyum mala yang amat manis. Begitu juga mala, dia merasa nyaman ketika bercanda dan bercerita berdua bersama tedi.
Malam yang bahagia, walaupun hati yang tak sedang berbahagia.
 semakin larut, tidak mau kesiangan besok, mereka pulang ke rumah masing-masing Dan mereka saling membayangkan satu sama lain di atas kasur hingga terlelap.                                                                                                               
 
Matahari terbit dari timur dan terbenam di barat, itu merupakan perubahan waktu, yang jika tak di manfaatkan maka hidup kita akan sia-sia. 

Pagi pertama tedi bekerja di resto mala, tetapi tedi di sarankan roy untuk menghafal menu yang ada di resto, baik yang tradisional maupun makan modern. 
Hari selalu berjalan dan tidak terasa sudah tiga hari tedi bekerja di resto milik mala, resto pun makin ramai pengunjung. Dengan hadirnya mala, tedi terlihat sangat bersemangat, begitu juga mala, sangat bersemangat menebar senyum pada para pelanggannya.
Mala semakin mengenal tedi, semakin banyak pengalaman yang dia dapat, mala merasakan hal yang mungkin di miliki oleh tedi, mala jatuh cinta, ketika melihat tedi sedang masak. Semua yang mala rasakan di tuangkan di dalam buku diarynya, saat sedang di panggil roy, buku diarynya jatuh dan tidak sengaja yeni menginjaknya, dan melihat semua isi buku itu, terpaku melihat isi bukunya, mala datang dan merebut buku itu dari tangan yeni
“mala, aku bener-bener enggak tau, kalau kamu suka sama jimmi, aku minta maaf mala” yeni dengan wajah bersalah
“sudahlah yen, semua sudah berlalu, rasa itu juga sudah tergantikan dengan yang baru” jawab mala dengan senyum
“siapa-siapa?” tanya yeni
“dia ada di sini kok yen” wajah mala memerah
tiba-tiba tedi memotong pembicaraan mereka berdua
“ehem, nona-nona, apa ada pesanan lagi” tanya tedi seakan menyindir
“sepertinya tidak ada pak koki” jawab mala tersenyum
tedi tidak sengaja mendengar pembicaraan mala dengan yeni, dan tedi ternyata memiliki rasa yang sama dengan mala.

Malam tiba, dan waktunya untuk pulang.
Tedi menawarkan mala untuk pulang bareng, mala tak menolak, perjalanan pulang mala memeluk erat tubuh tedi, karena malam itu dingin sekali.

Bulan pada malam itu sangat tampak nyata, dan sebagai saksi bahwa cinta datang karena terbiasa.
Setelah mengantar mala pulang, tedi juga pulang kerumah dengan sejuta kebahagiaan, begitu juga dengan mala, hatinya sangat berbunga-bunga ketika di ajak pulang bareng, dan saat ingin tidurpun, masih terbawa senyum-senyum sendiri, membayangkan tedi, pria yang saat ini membuatnya nyaman dan bahagia.
Mala berharap mimpi indah malam itu.
Pagi datang lagi, hari ini resto tutup karena tanggal merah, tedi berencana mengajak mala jalan ke taman sari, saat ingin mengajaknya jalan, tedi terkejut, saat menelpon mala.
“halo, selamat pagi mala” sapaan tedi
“iya, ada apa tedi?” tanya mala
“begini, karena hari ini kita libur, mau enggak, kalau kita jalan ke taman sari?” tawaran tedi malu-malu
“tedi, aku sudah di taman sari sekarang, kalau mau ketemu, kesini aja” ajak mala berharap
“baiklah, tunggu yaa, jangan kemana-mana, aku juga ingin mengatakan hal yang sangat penting tentang perasaanku” jawab tedi membuat mala penasaran.

Tedi pun bergegas menemui mala di taman sari, sesampai di taman.
Tedi duduk di samping kanan mala, dan mala menceritakan semua tentang kenangan taman ini bersama almarhum ibunya, tedi terkejut, ketika mendengar mala tidak mempunyai ibu lagi, dan sebaliknya tedi becerita panjang lebar tentang dirinya, dan keluarganya, pembicaraan itu membuat tedi lupa akan apa yang harus dia sampaikan kepada mala. Beberapa jam setelah bercerita, merak sekarang saling mengetahui satu sama lain, dan mulai memahami satu sama lain
tedi ingat apa yang ingin dia sampaikan
“mala, boleh aku tanya sedikit tentang privasimu?” tanya tedi malu-malu
“boleh, nanya apa?” jawab mengembalikan pertanyaan
“kamu saat itu sudah punya pacar?” tanya tedi dengan gugup
“saat ini belum, tetapi ada seorang pria yang membuat aku nyaman, kalau sedang di dekat dia” jawab mala sambil memandang wajah tedi
“siapa mala?” tanya tedi takut
“orangnya ada di samping kanan aku, ted” jawab mala senyum memandang wajah tedi yang memerah
“ya ampun, ini enggak mimpikan?” tanya tedi seakan tak percaya
“enggak kok, dan semoga orang itu punya rasa yang sama denganku” jawab mala penuh harap
“mala, kalau boleh jujur, aku suka sama kamu, dan aku memendam rasa sayang sama kamu” tedi dengan jelas
“aku juga ted, sayang sama kamu” jawab mala senyum
“saat ini, dan pagi ini, kamu mau mengisi hati aku yang saat ini kosong?” tanya tedi dengan penuh cinta
“aku bersedia, mengisi hatimu yang kosong itu” jawab mala dengan yakin.
Di hari itu, hari yang bahagia untuk meraka berdua, mereka saling menyayangi dan mencintai, saksi cinta mereka adalah bunga yang saat itu sedang mekar dan tumbuh indah. Mereka berdua bepacaran.

Setengah tahun hubungan mereka berjalan, sedangkan hubungan jimmi dan yeni, kandas di tengah jalan, itu karena perkenlan yang singkat.

siang hari waktunya makan siang, jimmi datang ke resto, dan memesan makanan seperti biasanya, saat makanan tiba di bawa oleh mala, jimmi menyuruh mala duduk di hadapannya, mala tak terlihat gugup lagi, jimmi pun membicarakan perasaannya kepada mala.
“mala, mas jimmi sadar, kalau ada yang mencintai mas jimmi saat ini” pernyataan jimmi
“siapa mas?” tanya mala, tak tau apa-apa
“kamu mala, mala mau jadi pendamping hidup mas jimmi?” pertanyaan yang menggoncang jiwa mala
memandang kebelakang, melihat tedi yang saat itu sudah mengisi hatinya
“maaf mas, mala enggak bisa”jawab mala dengan senyuman manisnya
“kenapa enggak bisa?” tanya jmmi memaksa
“sudah ada orang lain di hati mala” jawab mala
“hemm, telat ya berarti, ya sudahlah enggak apa-apa” jawab jimmi lesu
“iya mas, maaf ya” tanggapan mala
jimmi pergi meninggalkan mala tanpa menyentuh makanan pesanannya
dan mala pun membereskan makanan yang di tinggal jimmi.

Seiring bergantinya hari, bahkan berganti bulan, semakin terkenal resto santi milik mala.
Dua tahun bekerja, dan sukses menjadi koki, sukses juga menjaga hati anak seorang koki hebat di yogyakarta, Tedi di ajak berbicara empat mata dengan roy, tedi berperasaan tidak enak, ternyata roy menyuruh tedi membuka cabang di bandung, meskipun masih bingung dan ragu akan tawaran roy, tedi tetap menjalankan amanah itu, mala tidak sengaja menguping pembicaraan mereka bedua.
tetapi, tedi harus berhubungan jarak jauh dengan mala, itu yang membuat tedi sedih.
“mas, aku enggak apa-apa kamu tinggalin sementara, asal jangan hati kamu yang ninggali aku” mala dengan wajah tidak ikhlas
“iya mala, mas selalu jaga hati dan perasaanku, untuk satu orang wanita yang membuat mas bahagia, yaitu kamu, mas janji akan membawa pulang nama baik ibumu resto santi, dan ayahmu, serta mambawa sejuta kerinduanku padamu” jelas tedi kepada mala
“aku pegang janjimu mas” mala penuh harapan
meskipun di tinggal, dan pasti akan terasa sepi, mala menangis kecil di belakang resto, roy melihat mala menangis
“anak ayah kok nangis?”tanya roy baru datang
Mala terdiam masih menangis
“ayah Cuma mau mewujudkan impiannya, berkat dia resto kita sekarang terkenal di malioboro, bahkan se-jogja, maka dari itu ayah akan membuka cabang di bandung kota kelahirannya, semoga saja dia sukses di sana dan dia kembali kepada kita”jelas roy
“itu bukan alasan yang logis ayahh” bentak mala menangis
“menurut ayah tidak apa jika harus mengorbankan perasaan, untuk melihat orang yang kita sayangi menjadi orang yang sukses” jawab roy pelan
“kenapa harus tedi yah?” tanya mala
“ya tadi itu, ayah terkesan dengan semua ceritanya, dia ingin sekali menjadi koki terkenal yang memiliki resto sendiri, itulah impian tedi sejak dulu, tidak ada salahnyakan ayah membantu?” jawab roy
“tidak juga sih, ayah yakin dia tidak akan meninggalkan kita?” tanya mala ragu
“iya mala, dia anak yang jujur dan bertanggung jawab kok” jawab roy
mala berhenti menangis, dan kembali tersenyum dan memeluk ayahnya.
ke esokan harinya, tedi berangkat ke bandung, ketanah kelahirannya, dan membuka cabang dari resto yang di dirikan ayah mala.
di bandung tedi tidak mau menyia-nyiakan waktunya dan terus tekun dengan prinsipnya dulu. hari demi hari, minggu demi minggu hingga bulan ke bulan, semakin ramai pengunjung  resto yang di jalani tedi saat ini, dan tidak terasa waktu terus berjalan. Baru saja satu tahun resto yang di jalannyai itu sudah cukup terkenal, akan masakan-masakannya yang enak dan mewah. Sedangkan mala melanjutkan kuliahnya, dia sempat membuat cerita-cerita pendek tentang dirinya, dan mala sering sekali membuat puisi untuk tedi.
Dua tahun kemudian, mala sukses membuat sebuah novel, dan ceritanya mengenai jalan hidupnya bersama tedi, sekaligus mengumpulkan puisi yang sangat banyak untuk menyambut kepulangan tedi. Di pertengahan tahun tedi berencana pulang ke yogyakarta menemui mala dan ayahnya, waktu yang tepat tedi datang ke yogyakrta, tanpa bilang kepada mala dan roy, sampai di resto, roy terkejut melihat tedi pulang tanpa ada kabar.
“permisi koki hebat” tedi memanggil roy
“heyy, tedi si koki keren, aku sangat merindukanmu dan masakan-masakanmu” roy memeluk tedi yang baru datang
tedi diam sejenak melihat ke arah dapur
“mala kemana pak roy?” tanya tedi ingin tahu
“mungkin di  tempat biasa,” jawab roy
roy melanjutkan pekerjaannya di dapur, sedangkan tedi terdiam dan berpikir, dimana mala. tedi pergi ke tempat dimana mala biasa bercerita dengan hatinya, di taman bunga, tedi menemukan mala sedang merenung, dan tiba-tiba tedi menutup mata  mala dari belakang
“heyyy siapa inii, ayah, atau yeni?” tanya mala tidak bisa melihat
saat di buka, mala terharu dan terkejut, apa yang dia ceritakan di taman, ternyata datang begitu saja, terasa seperti mimpi
“mas tedi, kok pulang enggak kasih kabar ke aku?” tanya mala kesal
“ini kejutan untukmu mala” jawab tedi
merekapun berpelukan, mala sangat erat memeluk tedi, lebih erat pelukannya waktu dulu mereka berdua diatas motor.
Mereka saling bertukar cerita tentang dua tahun belakangan ini, mala bercerita kalau dia membuatkan sejuta puisi untuk menyambut kedatangannya, dan tedi sangat terharuh, berkali-kali tedi mengecup kening indah mala. Mala sangat terlihat sangat-sangat bahagia, dan kebahagiaan itu tak tertahankan, karena belahan jiwanya kembali datang lagi.
Tidak lama di jogja tedi kembali ke bandung, untuk melanjutkan restonya. mala lagi-lagi menangis ketika akan kepergian tedi. Tidak terasa mereka berpacaran sudah lebih dari empat tahun lamanya.
 Hubungan mereka sangat harmonis, karena di kelilingi oleh rasa saling percaya, dan rasa saling memahami.
Pada akhirnya orang tua mala dan tedi di pertemukan dan saling membahas anak mereka, pada akhirnya orang tua mereka pun menyetujui hubungan mala dan tedi. Mereka pacaran selama genap lima tahun, di tambah jarak yang cukup jauh, membuat itu semua lebih terasa kerinduannya. Mala tak mau menyia-nyiakan waktu itu, selama 4tahun setengah ia kuliah dan mendapat gelar sarjana sastra indonesia, sekaligus menunggu tedi datang untuk melamarnya.
Setelah sukses dengan novel karangannya mala hanya bisa menunggu. Beberapa bulan menunggu untuk hasil novelnya, dan akhirnya novel yang Mala karang di terbitkan di seluruh indonesia, tedi sengaja membeli sampai terkesan tedi membaca cerita novel yang di buat oleh mala. Tak lama tedi pun pulang ke jogja menemui mala, dengan membawa ayahnya, dia ingin melamar mala. Dan tidak lama dari rencana tedi mereka berdua akhirnya bertunangan dan terlihat kebahagiaan yang terdapat di wajah mala dan tedi, karena di selimuti rasa saling menyayangi yang amat dalam.
Setelah bertunangan mereka ke bandung melanjutkan usaha resto berdua di sana. tidak lama di bandung, karena mala tidak bisa jauh dari ayahnya, mereka kembali ke yogyakarta untuk membuka cabang baru di malioboro. sampai akhirnya mereka menikah di sana, dan memiliki tempat tinggal sendiri.  Dengan  rumah yang penuh cinta dan kasih sayang. mereka hidup bahagia, karena impian tedi menjadi koki terkenal tercapai, itu semua berkat kerja keras dan doa. sedangkan mala, menjadi orang kepercayaan di sebuah kantor kebahasaan di yogyakarta, karena pengalamannya meneliti isi-isi novel dan mimpi mala pun juga tercapai, itu semua awalnya dari niat mala yang sangat kuat. di dalam keluarga yang bahagia mereka  saling melengkapi dan saling memahami saatu sama lain, hidup merekan pun aman dan tentram, dan penuh impian yang kini tercapai.

selesaiiii
JJ
                                       

                                                                                                 SALAM  S_H ( sang hadi )

Jumat, 18 April 2014

tikus negeri

Ohhhh negaraku.
Negariku.
Bukan tempat tikus
Tikus-tikus berdasi.
Negariku.
Lihatlah aku, 
Aku dan meraka.
Yang membutuhkan sebuah belaianmu.
Yang membutuhkan hembusan kasihmu.
Negariku
Banyak isi di dalammu yang tersesat, 
Akan kebodohan
Akan kelemahan mncari sesuap nasi.
Negariku
Lihatlah kami, 
Mata kami  buta akan keserakahan para tikus-tikus
Wahaiii negariku tercintaaaaa, 
Marilaah
 kita hanguskan 
Hancurkan
Leburkan
Para tikus di negara ini.
Negara ini,
 negariku tercinta.

mantan (puisi pendek untuk mantan)

 Jangan dilupakkann
Jangan pula dihiraukan
   Jejakmu.
Hela nafasmu
        Dan suaramu.
 Bagai berdosa,
        Bilaa aku merindukanmu.
     Bila aku mengingatmu.
 Saat ini, bahkan nanti.
              Jika rindu datang padamu.
   Datanglah pula padaku.
Karena pintu jiwa ini selalu.
   Selalu terbuka. 
    Terbukaa untukmu.

manismu

Manisnya tatapan bunga,
Bagai manisnya tatapanmu,
Penuh harap, 
Dan penuh cinta.
Manismu
 penuh keceriaan,
Seakan mmbuat tubuh ini
 selalu datang padamu.
Manismu 
terkadang menanggilku.
Memanggil 
tanpa ada nama 
dan tnpa ada tanda.
Bagiku satu, 
yaitu manismu.
Manismu pula yang merapatkan benak ini, 
manismu pula yang melupakanku dengan indahnya dunia ini.
Berlalu manismu,
 berlalu pula hidupmu, 
Hidupmu
 adalah manismu, 
Dan manismu
 tercipta untukku. 

kau, puisiku

Kau...
Terangi akuu 
Aku yang kini berada
Di dalam kegelapan jalanku  
 Kau...
Damaikan
Setiap hembusan nasfas ini
Kau goncang
Kau goncang jiwa ini
Dengan hangatnya sapaanmu
Dengan indahnya pesonamu
Dan
dengan itu
Aku terasa jatuhh  
 Kauu
Seakan tak ada Jika kau tak mnyapa
Bagai karang yang kerin
gKering keras
Jika tanpa ombak       
 Kau Mimpiku
kata-kataku
Kalimatku
Dan
 kaulah Puisiku.
S_H

Sabtu, 12 April 2014

puisiku ( jangan hanya bermimpi )

terik kian mencekam
terang pun akan terpampang
siulan angin yang terus datang
bagai lagu tidur
untuk bermimpi
           siang begitu terang
            malam begitu gelap
            terang bagai jiwa 
     jiwa tanpa mimpi
gelap hanya jiwa dengan penuh mimpi
        mimpi hanya menunggu
         mimpi hanya menanti
          menanti terangnya jiwamu 
menunggu dirimu bangun 
berlari kencang mengejar mimpi
             bangunlah
            bangunlah dengan jiwa yang keinginan
           agar mimpi itu dapat tercapai.

cerpenku yang pertama


BUNDA, JANGAN PERGI
(detik-detik kepergian bunda)
Karya: HADITRI SETIAWAN
Dulu matahari menyapaku, dan menyapa keluarga mungilku, ada ayahh dan bunda. Sekarang hanya  embun pagi yang sangat terasa , mengingat tawanya, mengingat candanya, dan mengingat manjanya yang mungkin takkan pernah hilang SELAMANYA, di dalam hatiku. DAN itu DULU.
semenajak kehilngan pada hari itu, aku sebelumnya tak mengetahui akan adanya perpisahan antara ibu dan anaknya, di mana mereka berada di alam yang kini berbeda.
Aku yakin, akan adanya tuhan, tapi sejak aku kecil, aku seakan tak tau apa-apa tentang sebuah keyakinan. Karena waktu aku kecil aku selalu berpikir.
Kadang hidup ini tak adil, kenapa harus ada yang gugur dalam kehidupan, dan kenapa harus aku yang mengalaminya. Semenjak menginjak bangku SMP, aku mengenal banyak arti keykinan terhadap tuhan, dan pada akhirnya aku Sadar, bahwa itu adalah cobaan dari yang MAHA KUASA. Aku seakan tak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya bisa meratapi hidup, dengan melihat hujan yang saat itu turun dan terus turun. aku terlahir dengan nama rini setiawan, ayahku nur setiawan dan bundaku yang bernama hilda astari. pada saat itu bundaku sakit keras, dengan penyakit yang sulit untuk di sembuhkan, aku hanya bisa menangis dan berdoa agar bunda cepat sembuhh. Beberapa kali ia masuk rumah sakit. pada hari itu penyakit bunda kambuh lagi, ayah membawa bunda ke rumah sakit yang sesuai dengan kondisi ekonomi keluarga kami. Padahal, waktu itu ayah belum dapat honor kerjanya, terpaksa ayah melelang mobilnya dan uangnya untuk merawat bunda.
 pagi setelah menjual mobil
‘’yaahh, uang dari mana mau bayar rumah sakit ini?” tanya bunda, suara serak basah
‘’sudah, jangan di pikirkan, ayah sudah mendapat uangnya kok” jawab ayah, dengan wajah tanpa beban.
  Pertanyaan itu membuat ayah merasa tak enak hati dengan bunda, karena menjual mobil kesayangan ayah waktu masih pacaran dengan bunda.
siang hari, sepulang sekolah aku pergi  kerumah sakit, menemani bunda yang sedang di rawat, setelah sampai di kamar rawat bunda, aku melihat wajah ayah yang sangat bingung.
‘’ayah kenapa?” tanyaku pelan
“ayah enggak kenapa-kenapa sayang” jawab ayah dengan senyum yang berat
“ya sudah, ayah istirahat saja, biar rini yang jaga bunda” seruku dengan ikhlas dan penuh kasih sayang
“iya, anak ayah yang cantik, yang baik, kayak bundanya” jawab ayah tersenyum menatap bunda
‘’Pasti dong’’ sahutku
Ayah pulang dengan sepeda motornya, itulah harta ayah yang tersisa.
Beberapa jam aku menemani bunda, aku merasa sedih tak karuan, menatap bunda yang meringik kesakitan di dadanya, saat itu aku belum tahu pasti apa penyakit bunda, berkali-kali bunda merasa sesak didadanya, aku semakin bingung, bingung sekali, tak tau apa yang harus aku perbuat, hanya mengenggam erat tangan bunda waktu itu, tidak lama menggenggam tangan bunda  ayah pun tiba, dengan tergesah melihat bunda yang sedang sesak nafas.
“rini, bunda kenapa?” tanya ayah dengan ketakutan
“rini enggak tau yaahh” jwabku gugup dan takut
ayah bergegas memanggil suster, dan ternyata,alat bantu oksigen yang di kenakan bunda ada yang rusak, bergegas suster mengganti alat bantu oksigen itu. Dan memanggil dokter untuk di periksa ulang, beberpa jam menunggu hasilnya, ternyata bunda mengalami kanker paru-paru, serta gagal ginjal.
tak tega mendengarnya, saat itu aku memikirkan bunda yang yang dulu yang sangat sehat, jadi seperti ini.
setelah seharian aku menemani bunda, pada pukul 9 malam,ayah menyuruhku pulang, karena besok aku akan sekolah.

pagi hari tanpa bunda di rumah, terasa sepi, hampa dan sunyi. Tak sarapan pagi, tak ada pula kecup di keningku sebelum aku pergi sekolah.
saat tiba di sekolah aku pun belajar dengan jiwa yang tidak begitu semangat, terpikir dengan keadaan bunda saat  itu.  Sedih semakin membuat aku ingat nasehat bunda waktu itu.
“rini anak bunda , bunda boleh tanya?” tanya bunda sebelum ia  jatuh sakit.
“boleh dong, bunda mau tanya apa?” tanyaku kembali
“misalnya bunda meninggal nanti......”
pembicaraan bunda tak sengaja kupotong.
“bunda ini ngomong apaan sihh, bunda janji enggak bakalan ninggalin rini berdua sama ayah kan?” tanyaku tersedak sambil menangis
“bunda janji enggak bakalan ninggalin anak kesayangan bunda, karena ada atau enggak bunda di dekat rini, bunda akan selalu di hati rini kok” semangat bunda
“dan bunda akan selalu manyayangi rini ketika bunda di surga nanti” lanjut bunda
Suasana pun semakin sedih dan tangis tak tertahankan, air mata pun berjatuhan, sebagian air mataku membasahi baju bunda saat itu.

menurutku dan menurut perasaanku, tiada belaian yang paling lembut, dan hanya belaiannya yang sangat lembut dengan diiringi pelukannya yang begitu hangat.
memang tak terasa saat dulu aku kecil, saat dimana aku di timang, tapi aku bisa membayangkan, betapa nyamannya di atas gendongan seorang bunda.
Dua hari bunda di rawat di rumah sakit, pikiranku masih terbayang-terbayang bunda, sampai aku pun di tegur guru fisikaku
“rini setiawannn!!” dengan nada marah
“iya, saya bu, ada apa bu?” tanyaku tak tau apa-apa
“kenapa kamu tidak memperhatikan saya menerangkan?” tanya bu guru masih marah
“saya lagi kurang enk badan, bu” jawabku dengan  lesuu
aku pun di bawa ke ruang UKS sekolah, ternyata aku hanya sakit demam biasa.
Tak lama ayah membawaku pulang kerumah. Ayah menaruhku di atas kasur.
“yaaah” panggil ku kepada ayah
“kenapa sayang?” tanya ayah dengan senyum
“jangan bilang bunda yaa kalau rini sakit, bsok juga sembuhh kok, oke yaahh” seruku
“oke tuan putri kecilku” jawab ayahku dengan nada menuruti permintaanku

Aku tak mau menambah beban pikiran bunda, dengan mendengar aku sakit.
beberapa jam aku trmenung akhirnya aku tertidur. ketika tidur aku bermimpi, mimpi itu sangat bahagia, tapi aku tidak tau apa arti mimpi itu.
 Di dalam mimpiku bunda sangat senang karena bisa mengendarai sepeda motor milik ayah, dan bunda meminta izin untuk pergi kepasar dengan ayah, aku pun menangis untuk ikut bunda ke pasar, tapi di larang oleh ayah.
pada saat itu aku tak tau apa maksud mimpi itu, aku tak ingin cerita dengan ayah, karena ayah terlihat lelah dan lesu.
Aku selalu memikirkan bunda sejak pagi ketiga bunda tak terlihat di rumah, sangat sepii.
Ayah pulang ke rumah untuk mengantar aku ke sekolah.
“kok anak ayah enggak semangat gitu sih?”tanya ayah dengan lembut
“rini semangat kok yah, rini pengen ketemu bunda yaahh” mintaku
‘’iya nanti sepulang sekolah ayah jemput, ayah antar rini ke rumah sakit, oke sayang”ajakan ayah dengan semangat
“baiklah ayah” jawabku semangat
Sesampai di sekolah, aku bertemu dengan anny, yang bisa di bilang, orang yang paling membenciku di kelas, bahkan di sekolah
“heyy rini!! kasihan sekali anak ayahh, di antar pakai motor butut”anny dengan sombong menegurku
“tak apa, dari pada berjalan kaki” jawabku tersenyum
“huh, dasar orang miskin, sok baik” anny dengan sinis
“jaga mulutmu anak orang kaya”jawabku kasar
“orang miskin maraaahh” anny tertawa mengejekku
Biarpun aku selalu sabar, tapi aku punya batas kesabaran, aku menampar pipi anny dengan keras, anny membalas tamparanku dengan jambakan rambut andalannya. Tak lama bertengkar, satpam sekolah memisahkan kami berdua
“heyy kalian, sudahh jangan bertengkar, kalian ini kan anak sekolah, enggak bagus kalau bermusuhan” omelan pak satpam kepada kami berdua
“saya tidak mau mancari musuh pak” jawabku dengan keras
“ya sudah, masuk lagi, bel sudah bunyi” seru pak satpam kepada kami

aku pun masuk ke kelas dan belajar dengan semangat, karena akan bertemu bunda sepulang sekolah.
bel sekolah pun bunyi menunjukan jam pulang sekolah.
Sepulang sekolah aku menunggu ayah di depan gerbang. 15menit aku menunggu ayah menelponku.
“sayang, ayah hari ini enggak bisa jemput rini, bunda sendirian nanti” suara ayah terdengar dari telpon
“yaudah, rini naik ojek aja yaahh, enggak apa-apa kok” jawabku dengan senyum semangat
“hati-hati ya anak ayahh” saran ayah di telpon
“iya ayaah” jawabku dengan tegar

aku pun berjalan mencari tukang ojek, pada saat mencari ojek, anny teman sekelas yang tak pernah senang denganku mengejekku.
“hey anak pungut, kenapa jalan kaki?” tanya anny dengan sombong
“ayah lagi jaga bunda di rumah sakit, jadi enggak bisa jemput aku” jawabku dengan hati sabar
“kasihan yaah hidup kamu rini, punya orang tua, tapi penyakitan hahahaha”anny dengan nada mengejek di dalam mobil mewah
“......” aku diam merunduk
di situ aku merasa terpukul, merasa marah, merasa murka, ketika bunda di ejek-ejek seperti itu.
akupun melempar mobil mewah anny dengan batu besar, setelah mengenai sasaran akupun lari kencang dengan rasa takut.
kelelahan dan saat itu hujan deras serta ada angin yang seakan memanggilku untuk cepat cepat pulang dan menemui bunda.
saat itu di bawah pohon besar aku berteduh dari hujan yang sangat lebat, aku terpikirkan  bunda terus menerus, terpaksa aku berlari melawan hujan yang deras, berlari dengan air mata yang berjatuhan terbawa air hujan, menuju rumah sakit dimana bunda di rawat, setengah jam aku berlari, di pikiranku hanya ada bunda,bunda,dan bunda.
sesampai di rumah sakit aku pun menggigil kedinginan, sangaaaattt dingin.
pada hari itulahhh.............
Di hari yang dingin, hari yang sangat memukul jiwa, hati, dan perasaanku. Diteras rumah sakit, perasaan aku mulai tak menentu, di campur rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang, aku perlahan masuk rumah sakit, tiba-tiba ayah memanggilku, dan mengatkan,
“sayang, bunda udah enggak ada” sambil memelukku menanggis
“bunnnndaaaaa,,,,,,,” memejamkan mata dan menangis
saat itu aku sangat terpukul sekali, dan pikiranku melayang, membayangkan belahan jiwaku hilang, aku hanya terpaku dan menanggis melihat bunda terbaring kaku di atas keranjang jenazah, ia meninggal dunia pukul 14.15 siang, saat itu sedang hujan deras.   Jenazah bunda langsung di bawa kerumah, terakhir kalinya aku mencium kening indah yang di milikinya, sekali lagi aku menangis mengingat janjiku dengannya, jika besar nanti aku akan membahagiakan bunda dan ayah, tapi nyatanya tuhan berkehendak lain dan jenazah bunda di semayamkan di pemakaman dekat rumahku. Rasa kehilngan sangat aku rasakan, sangaatt dalam.
bahkan di dalam hatiku berkata bunda bohong sama rini, bunda bilang enggak bakalan ninggalin rini.

Dengan rasa tidak ikhlas, di tinggal pergi selama-lamanya oleh seorang ibu, aku seakan kehilangan sebagian jiwaku, kehilangan harta terbesarku, kehilngan akan manjanya, akan pujiannya, akan nasehatnya, dan kehilngan kasih sayangnya sebagai seorang ibu, yang dulu selalu mengangkat tubuh ini, yang selalu menyemangatiku di kala aku merasa sedih.
setelah kepergian bunda, rumahku istanaku, sudah tak lagi berlaku untukku, karena bunda sudah tiada, sunyi , sepi aku pun hanya merenung dan mengis.
ayah mensehatiku,
“anak ayaah kok nangis terus?” tanya ayah serak
“rini enggak nangis kok ayah, rini Cuma sedih aja, bunda ninggalin rini.” Jawabku sedih
“bunda nanti sedih loohh, kalau liat anak kesayangnny sedih, bunda itu Cuma pergi sebentar, bunda akan selalu ada di hati rini truss.....”
kata-kata ayah tadi mengingatkanku akan percakapanku dengan bunda waktu itu.
“jadi, sekarang rini kirim doa untuk bunda, supaya bunda tetep bahagia di surga, oke sayang” nasehat ayah
“baiklah ayah, rini akan selalu berdoa untuk bunda, di dalam solat rini, maupun di setiap malam yang penuh sama bintang” jawab ku seakan tegar
“baguuuussss, itu baru anak ayaah sma bunda” ayah mengusap kepalaku.

Aku berfikir sejenak dan aku pun tauu , , , , , bahwaaa . . . . .
Mungkin ini arti dari mimpiku waktu itu. . . . . . . . . . . . . . . .

Mengingat mimpi itu aku pun rindu dengan bunda.

“ayah, rini kangen bunda, kita ke makam bunda yuukk” ajakku seakan tak ada kesedihan
“ayoo sayang, bunda pasti seneng, kalau rini datang kesana, tapi jangan lupa doa untuk  bunda yaa sayang.” Ajak ayah kembali
“iya ayahh, rini selalu berdoa kok untuk bunda” jawabku dengan senyum
hari ke tujuh bunda meninggal, aku mulai rutin hadir di atas makam bunda setiap minggunya, dengan sepotong ayat suci AL-QUR’AN, untuk mendoakan bunda agar tetap tenang dan bahagia di sisiNYA, disisi YANG MAHA KUASA.   

Pada malam hari aku melihat satu bintang yang begitu terang, aku membayangkan itu bunda yang tersenyum kepadaku, dalam hati aku berkata
“BUNDAA, AKU AKAN SELALU MENGINGAT JANJIMU, YAITU  AKAN SELALU ADA, SELALU ADA DI DALAM HATIKU DAN DI DALAM BENAKKU. “

DULU DAN SEKARANG BERBEDA, SANGAT JAUH BERBEDA, DULU YANG SELALU PENUH DENGAN KASIH SAYANG, SEKARANG HANYA TINGGAL KENANGAN.

I LOVE YOU MOM :*

SELESAIIIIIII JJJJ
                                                                                       



                                                                                           SALAM,,,,,, S_H (Sang Hadi)